Antara input, proses, dan output

Ikhwah, tau HACCP ga?

Kalo belum, ni aku kasih tau. Kalo udah, koreksi ya, siapa tahu yang aku tulis ini salah.

HACCP tu sistem jaminan (terutama keamanannya) pangan yang pendekatannya bukan pada output, tapi pada input dan proses, meskipun ntar ada sedikit verifikasi di bagian output. Logikanya gini, kalo inputnya bagus, prosesnya bagus, masa sih outputnya ga bagus? Tapi karena ini cuma logika asumsi, maka tetep ada verifikasi di bagaian output, hanya saja ga seribet kalo pake sistem dengan pendekatan output yang harus ngecekin produk satu-satu dengan segala macem propertisnya.

Nah, lain dengan HACCP, lain lagi dengan gugus kendali mutu. Di gugus kendali mutu produk dinilai dalam suatu range yang bisa diterima. Kenapa range? Ya karena ga mungkin ada dua produk yang bener-bener identik. Jadi kalopun ada perbedaan, itu cuma variasi yang masih bisa diterima. Lain lagi kalo ternyata perbedaannya dah nyeleneh, dah keluar dari range, ya direject, or di reproses.

Nah lagi, trus apa maksudnya kok aku nulis hal ini? Mmm, anggep aja itu pengantar, buat background dari tulisan inti di bawah ini.

Tentang pemahaman yang bercokol di kepala kita masing-masing, kok beda-beda ya? Tapi, gimana nih perbedaannya, apa masih dalam range yang merupakan perbedaan yang dihargai dalam masalah khilafiyah, ato justru perbedaan yang dah nyeleneh yang keluar dari range yang diterima syariat? Ntar, ntar, jangan dijawab dulu, jangan buru-buru. Karena sekarang aku juga ga akan memvonis, biarlah masing-masing yang menilainya, tulisan ini cuma jadi bahan renungan.

Hal tersebut di atas adalah jika ditinjau dari gugus kendali, yaitu dari segi apakah perbedaan yang ada masih dalam range yang diterima atau tidak. Nah, sekarang jika ditinjau dari segi HACCP, maka seperti di bawah ini.

Input utamanya cuma dua, yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Nah, input pendukungnya yang banyak, ilmu tafsir; ilmu bahasa (nahwu dan shorof), syair, dan balaghoh; ilmu hadits dengan segala macam seginya (jahr wa ta’dil; sanad; matan; status shohih, hasan, dho’if, maudhu, mungkar, dan lainnya; biografi  rawi; syahid dan  ilat;  pengumpulan hadits-hadits yang  banyak yang  saling melengkapi;  penggabungan  hadits-hadits  yang seolah-olah  kontradiksi, dan lainnya); ilmu  sejarah;  kumpulan atsar para Sahabat; Siroh Nabi; dan masih banyak lainnya. Nah, karena begitu banyaknya bahan-bahan itu, tentu untuk mengolahnya ga semudah katanya dan katanya. Dan jujur, siapa yang paling berhak mengolahnya? Aku sendiri akan jawab bahwa yang berhak adalah ulama.

Nah, muncul pertanyaan lain, ulama itu yang kaya gimana sih? Apa kriteriannya? Wah, panjang deh, intinya aja ya, yang aku pahami, ulama adalah yang diulamakan (maksudnya dianggap ulama) oleh ulama lainnya. Konsep ini lah yang melahirkan konsep tazkiyah (rekomendasi). Ketika seorang ulama mengatakan orang lain ulama, maka jadilah orang itu mendapat rekomendasi bahwa dia adalah ulama. Dengan demikian, kita akan punya sanad yang bersambung, ulama A dari ulama B dari ulama C dari ulama terusssssssssss dari Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam, jadi jika dikatakan “dia adalah ulama”, maka tanyakan, ulama mana yang bilang kalo dia adalah ulama? Ah, penjelasan ku ribet ya?

Gini deh, konsep rekomendasi seorang guru pada muridnya. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam telah merekomendasikan tiga generasi terbaik, dan kemudian mereka merekomendasikan ulama-ulama berikutnya, dan seterusnya sampai zaman kita sekarang. Jadi, kalo ada yang bilang “dia adalah ulama”, ya kita mesti tau, ulama mana yang udah mengulamakan dia? Kenapa kita tanya gitu, supaya terbedakan antara ulama beneran dengan ulama gadungan. Kenapa? Karena kalo setiap individu bisa mengangkat seorang menjadi ulama, maka yang kemungkinan terjadi adalah “Seringkali seorang bodoh di anggap ulama oleh orang yang lebih bodoh dari dirinya”.

Nah, selain rekomendasi, ada juga konsep tahdzir (peringatan), yaitu peringatan para ulama dari orang-orang sesat yang menyerukan kesesatannya. Mereka inilah ulama suu’ (ulama jahat) yang menyeru manusia ke nereka. Contoh ekstrimnya (semoga ga ada yang ga setuju) ya ulama-ulama ahmadiah. Meskipun disebut ulama, dengan adanya peringatan dari ulama beneran, maka kita akan tau kalo mereka adalah ulama gadungan.

Kemudian, apa pentingnya rekomendasi dan peringatan ini? Ya itu, untuk membedakan ulama beneran dengan ulama gadungan. Nah, kalo kembali ke konsep HACCP, maka inilah proses yang perlu dikontrol dalam mengolah input menjadi output yang dapat diterima (meskipun akan ada variasi pada output-output itu, tapi variasi itu dalam range yang masih bisa diterima oleh syari’at, misalnya setelah rukuk ada yang sedekap lagi ada yang ga, maka ini adalah perbedaan fiqh yang masih bisa diterima dalam range syari’at kita).

Oleh karena itu, kita harus memilih ulama yang benar-benar ulama, agar proses pemahaman yang kita dapatkan dari si ulama itu adalah proses yang benar, dengan dasar input (dalil) yang benar, sehingga kita jadi output yang benar pula, yaitu muslim yang benar.

Jadi, kesimpulannya adalah………….

Mari kita lihat ulama-ulama yang selama ini telah mewarnai pola pikir kita masing-masing, apakah mereka benar-benar ulama?

Silahkan dijawab masing-masing, silahkan dicari referensi sebanyak-banyaknya agar kesimpulan yang kita tarik adalah kesimpulan yang dalam, bukan kesimpulan ‘murahan’ yang hanya berdasar sumber-sumber yang sedikit. Semoga kita ga jadi produk yang reject deh, kalo emang harus reproses, ya ga papa, dari pada reject, tempat sampahnya kan neraka, na’udzubillahimindzalik. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog yang laen:

kaptenbombay.wordpress.com salafyipb.wordpress.com waroengbombay.wordpress.com

Renungkan!!!

Wahai ikhwan abal-abal yang hobinya tebar-tebar pesona!! Apalah gunanya engkau dikenal oleh banyak akhwat di dunia bila tak satu pun bidadari surga yang sudi bahkan untuk sekedar melihat wajahmu?!

Maaf…

Pesan ini ditujukan kepada siapapun yang pernah berinteraksi dengan saya. Jika saya ada salah dalam bentuk apapun, maaf ya.. Dan jika ada praduga dan prasangka di hati anda, tak perlu sungkan untuk mengklarifikasikannya ke saya, ke didi_palaz@yahoo.com. Demikian juga bila ada kritik, saran, atau yang lainnya...
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.