Belajar dari shaf sholat
15 Sep 2010 Leave a Comment
in Serius
Sering kita mendengar imam berkata: Lurus dan rapat kan barisannya, lurus dan rapatkan barisannya, jangan kalian berselisih sehingga berselisih hati-hati kalian, lurus, lurus…
Kemudia makmum saling meluruskan, yang kemajuan maka mundur, yang kemunduran maka maju, beberapa orang juga kadang ikut meluruskan, kemudian setelah lurus, barulah sholat dimulai..
Maka, ini lah yang mestinya kita lakukan jika ingin berjuang bersama, kita satukan dulu barisan kita. Jangan pula orang yang menyimpang merasa tersinggung jika ditegur, namun yang mesti dia lakukan adalah mengikuti kebenaran dan meninggalkan kesalahannya.
Maka, alangkah aneh jika ada yang berteriak-teriak “Ayo bersatu” padahal orang-orang yang diteriakinya ada yang masih mengerjakan syirik, menggantungkan hatinya pada batu ini dan kubur itu. Juga banyak yang masih bergelimang dalam bid’ah dan maksiat, lantas, persatuan macam apa yang dia inginkan?
Ingatlah, siapa bapak bangsa Arab? Dialah Ismail putra Ibrohim, dia bersama ibunya lah yang pertama kali tinggal di Arab. Banyangkan, apakah saat itu mereka berpecah belah berbangsa-bangsa sebagaimana kentalnya fanatisme kabilah bangsa arab ketika diutusnya Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam? Tentu tidak, bangsa Nabi Ismail ketika itu bersatu di atas tauhid ajaran Ibrohim yang lurus. Lantas apa sebabnya kemudian mereka berpecah belah menjadi banyak kabilah?
Jawabannya adalah karena kesyirikan! Diawali dengan seorang tokoh mereka yang membawa berhala dari negeri syam, yang kemudian disembah.
Ingatkah kalian, ada berapa berhala yang dihancurkan Rosululloh saat penaklukan mekah? Ratusan!
Itulah yang membuat mereka berpecah belah, fanatisme kelompok, ketika kelompok lebih dicintai daripada kebenaran. Maka bagaimana mereka akan bersatu jika hati sebagian mereka bergantung pada berhala ini sedangkan hati sebagian lainnya bergantung pada berhala itu?!
Kemudian, datanglah Islam yang mengajak mereka meninggalkan fanatisme hizbiyyah, Islam menyatukan hati-hati mereka di atas kalimat tauhid, maka muncullah kekuatan persatuan yang kalian telah mengetahui kedahsyatannya! Kekuatan dahsyat yang telah memporak-porandakan dua negara adidaya saat itu!! Inilah buah dari dakwah tauhid, satu-satunya dakwah yang bisa menyatukan umat!!!
Lantas, bisahkah persatuan hakiki semacam ini terwujud dengan dakwah politik demokrasi yang katanya mengajak persatuan, namun justru memecah belah dalam fanatisme partai?
Biarlah waktu yang akan menjadi bukti…
Wallohu a’lam