Dulu saya Salafy
15 Sep 2010 6 Comments
in Serius
Tulisan ini sebenarnya ditujukan untuk seseorang (yang ngerasa lah, kali aja dia berkunjung ke blog ini), tapi karena pertimbangan lain, maka aku jadiin tulisan ini buat umum.
Sering aku mendengar (atau membaca) ungkapan “Saya dulu salafy loh”, atau “Dulu saya juga di salafy”, atau “Ustadz ku juga dulunya salafy”, atau ungkapan senada lah. Sekilas ucapan ini biasa-biasa aja, tapi jika ingin dipikirkan lebih jauh, maka dapat dikatakan bahwa orang yang mengucapkan ini adalah orang yang memiliki pemikiran yang goncang sehingga tidak mengerti makna kata salafy.
Orang ini adalah orang yang masih menganggap salafy sebagai suatu organisasi fisik, atau jama’ah fisik, atau golongan fisik, atau lainnya. Padahal salafy adalah pemahaman. Padahal salafy adalah komitmen pada berpegang dengan pemahaman para sahabat dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah. Salafy bukanlah orang yang ngaji pada ustadz ini dan syaikh itu. Salafy juga bukan orang yang ngumpul di masjid ini atau dengerin radio itu. Juga bukan orang yang belajar pada ulama ini dan imam itu. TAPI, salafy adalah komitmen, bukan sekedar pengakuan.
Jika ada orang yang pemahamannya terhadap Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf (sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik), maka dia adalah salafy, meskipun dia tidak pernah berkata “SAYA SALAFY”. Dan sebaliknya, jika ada orang yang berkoar-koar, “Saya salafy”, “Saya ahlus sunnah wal jama’ah”, atau ungkapan yang sejenis, namun pemahamannya justru bertentangan dengan pemahaman salaf, maka dia bukan salafy.
Lantas, bagaimana jika ada orang yang berkata “Saya juga dulu salafy” hanya karna dia pernah duduk di salah satu majelis ustadz yang berpemahaman salafy? Maka aku katakan, orang ini bodoh terhadap makna salafy, dia tidak mengerti dengan kalimat yang dia ucapkan sendiri.
Lebih jauh, jika ada orang berkata “Saya dulu salafy”, maka implikasinya, sekarang dia bukan salafy. Padahal salafy adalah pemahaman yang benar. Dengan demikian, dengan sendirinya orang ini mengakui bahwa dia sekarang (ketika mengucapkan “Saya dulu salafy”) tidak di atas jalan yang benar.
Sekali lagi, implikasi dari ucapan “Saya dulu salafy” adalah pengakuan si pengucap bahwa dirinya tidaklah berada di atas jalan yang benar. Inilah pengakuan yang diucapkannya dengan sadar, atau bisa jadi dia sedang mengigau. Mengigau dalam impian semu jalan dakwahnya yang dia kira sebagai jalan yang benar, padahal tidak demikian.
Maka aku katakan pada orang ini, BANGUNLAH, berhenti bermimpi!
Wallohu a’lam
Nov 30, 2011 @ 06:22:50
mantapzzzzz…saya dulu pengikut bid’ah,sekarang ana berupaya jadi salafy (ini baru tepat)
Dec 04, 2011 @ 01:03:23
Alhamdulillah, semoga kita istiqomah di atas manhaj yang haq ini..
Jan 03, 2012 @ 02:44:45
Assalamualaikum…I like this. Boleh saya share di blog saya? iffahmuzhaffar.wordpress.com. Jazakallah khairan
Jan 07, 2012 @ 04:02:16
Wa’alaikumussalam warohmatulloh..
Boleh, tafadhol akhi/ukhti, wajazakumullohu khoiron..
Mar 14, 2012 @ 05:58:55
na’am.., kami mendengar radio itu.., mengikuti kajian itu…, dan membaca kitab itu.., bukan karena “salafy”nya tapi semata-mata karena mereka semua merujuk ke al-qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salaf…,
btw…, kalo ada yg bilang kami ini salafy.., makasih banget ya…, karena sebenarny itu adalah doa…, mudah2an kami benar-benar salafy… (dan bersama mereka kelak di surga)… ^^
Mar 18, 2012 @ 22:54:57
Ya, semoga kita benar-benar salafy, bukan sekedar pengakuan..
Terimakasih sudah berkunjung..