Ada apa dengan wahabi?
18 Sep 2010 Leave a Comment
in Serius
Mungkin ada yang pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti “Awas, dia wahabi”, “Itu aliran wahabi”, “Wahabi itu begini, wahabi itu begitu”, “Hati-hati dengan ustadz itu, dia wahabi”, “Wah, yang ngebom ini pasti dari kelompok wahabi”, “Teroris itu para wahabi”, “Kalau ke negeri Saudi, hati-hati terpengaruh wahabi”, “Pemikiran wahabi telah masuk ke Indonesia”, dan ungkapan-ungkapan lainnya tentang kesan negatif wahabi, yang dilontarkan oleh orang-orang dengan berbagai macam tujuan.
Namun, ketika mereka ditanya, “Wahabi itu apa sih?”, maka terdiamlah sekelompok orang dari mereka karena pada hakikatnya mereka hanyalah burung beo yang hanya mengatakan apa yang dia dengar, tanpa mengerti apa yang dia ucapkan. Inilah kelompok pertama.
Sekelompok lainnya, yang sedikit lebih berilmu, mengatakan, “O, wahabi itu kelompok yang mengikuti dakwah Syaikh Abdul Wahhab”, namun ketika ditanya, “Memang apa salahnya dakwah Syaikh Abdul Wahhab?”, maka lagi-lagi tampaklah bahwa kelompok ini pun sesungguhnya hanya kumpulan burung beo, meskipun sedikit lebih berilmu dibandingkan kelompok pertama. Inilah kelompok kedua.
Sekelompok lainnya, mereka berkata, “Ini salahnya dakwah Syaikh Abdul Wahhab, dia berkata begini, begitu, dia berbuat begini, begitu, bla bla bla bla”, dengan tuduhan-tuduhan buruk yang ketika dicek, ternyata tuduhan itu tidak terbukti sama sekali. Inilah kelompok ketiga.
Yah, setidaknya inilah tiga kelompok yang suka membuat kesan negatif terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dakwah Salafiyah, dengan mengatakan bahwa dakwah tersebut adalah wahabi, dengan memberikan gekar wahabi kepada dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka setidakknya tidak lepas dari tiga keadaan:
- Mereka mengatakan “wahabi” tapi tidak mengerti apa maksudnya.
- Mereka mengerti bahwa wahabi maksudnya yang mengikuti dakwah Syaikh Abdul Wahhab, namun mereka tidak mengerti tentang dakwah Syaikh Abdul Wahhab.
- Mereka yang menuduh dakwah Syaikh Abdul Wahhab dengan berbagai tuduhan dusta.
Kemudian, apa sebenarnya dibalik penggunaan gelar wahabi itu sendiri? Jawabannya setidaknya ada pada poin-poin di bawah ini:
- Si penuduh ingin memberi kesan bahwa dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah yang mengkultuskan seorang ulama, yang menjadikan ulama tersebut pegangan dalam segala hal. Padahal tidak demikian! Ahlus Sunnah wa Jama’ah tidak pernah menjadikan seorang pun sebagai pegangan mutlak selain Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam. Benar bahwa Syaikh Abdul Wahhab Rohimahulloh adalah ulama besar, namun hal tersebut tidak mewajibkan siapa pun untuk mengikutinya secara mutlak. Syaikh Abdul Wahhab hanyalah seorang ulama dari sekian banyak ulama yang dijadikan rujukan oleh para Salafiyyin dalam memahami agama ini, tanpa menafikkan bahwa beliau hanyalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa juga salah.
- Dakwah Syaikh Abdul Wahhab dikenal sangat memerangi syirik dan bid’ah sehingga banyak dimusuhi oleh golongan-golongan yang menyimpang dari jalan yang lurus dari golongan para penyembah kubur, ahlul bid’ah, dan ahlul hawa. Si penuduh ingin meberikan kesan bahwa dakwah Ahlu Sunnah adalah dakwah yang keras, yang dengan tuduhannya itu mereka ingin agar masyarakat menjauhi ulama-ulama Sunnah.
- Kesan buruk yang ada pada gelar “wahabi” dimanfaatkan oleh orang-orang yang haus kekuasaan dan jabatan. Ketika usaha mereka untuk meraup kekuasaan dihalangi oleh dakwah Salafiyyah yang menentangnya, maka mereka menuduh bahwa Salafiyah adalah wahabi. Bahkan kalian saksikan mereka dengan bangganya berkata “Kami bukan wahabi”, demi meraih simpati para penyembah kubur, ahlul bid’ah, dan ahlul hawa untuk memberikan suaranya pada mereka, wallohu musta’an.
Yah lagi, setidaknya itu tiga alasan dari orang-orang yang menggembar-gemborkan isu wahabi. Ingin aku mengatakan pada mereka, seburuk apapun gelar yang kalian berikan pada dakwah Sunnah, dakwah Tauhid, dakwah Salafiyah, maka sekali-kali hal itu tidak akan mampu merubah yang haq menjadi batil. Bukankah Rosululloh Shoallohu ‘alaihi wa sallam pun mendapat gelaran-gelaran buruk? Orang gila, tukang sihir, ahli sya’ir, dan lainnya. Namun kebenaran tetaplah kebenaran, sekalipun orang-orang yang menyimpang menjulukinya dengan kebatilan.
Terakhir, aku katakan, jika yang dimaksud wahabi adalah orang-orang yang keras, yang suka ngebom sana ngebom sini, yang suka teror sana teror sini, yang suka mengkafirkan sesama muslim, dan yang dinisbatkan dengan segala macam keburukan lainnya, maka dengan tegas aku katakan, AKU BUKAN WAHABI. Namun, jika yang dimaksud wahabi adalah orang-orang yang berusaha mengamalkan agama ini sesuai Al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para Sahabat, maka dengan bangga aku katakan AKU ADALAH WAHABI!!! Wallohu a’lam.