Konsekuensi sebuah pembelaan
18 Sep 2010 Leave a Comment
in Serius
Akhi, ukhti, sedikit berunek-unek ya…
Ketika ada perbedaan pendapat, kemudian kita memilih salah satu pendapat, apa sih sebenernya yang membuat kita memilih pendapat itu? Sekedar ikut-ikutan orang bayak? Atau perasaan? Atau insting? Atau fanatisme? Atau pemahaman? Atau? Atau?
Nah, alangkah baiknya sekarang masing-masing kita mengoreksi diri, apa sebenernya alasan selama ini kita membela sebuah pendapat.
Sebagai pertimbangan, gunakanlah pertanyaan-pertanyaan ini:
- Apa sih sebenrnya pendapat yang aku bela?
- Apa konsekuesi dari pendapat yang aku bela bagi diriku dan orang lain?
- Siapa yang mengeluarkan pendapat itu?
- Apa dasar pendapat itu?
- Jika ternyata dasarnya adalah sumber dalam bahasa asing, apa proses penerjemahan telah berjalan dengan benar?
- Apa latar belakang keilmuan, sosial, dan budaya penulis?
- Ada ga sih keterkaitan dengan apa yang di tulis oleh penulis dengan kepentingan pribadi atau kelompoknya?
- Ada ga yang menentang pendapat penulis?
- Jika ada, bagaimana pendapat itu? Apa dasarnya, dan pertanyaan seterusnya seperti di atas.
- Jika sumbernya sebuah dalil Al Qur’an, apa sih tafsiran ayat itu, asbabul nuzulnya apa?
- Apa juga yang dipahami oleh Sahabat terhadap ayat itu?
- Jika sumbernya hadits, siapa yang meriwayatkan hadits itu?
- Gimana tafsiran hadits itu, asbabul wurudnya apa?
- Apa status hadits itu? Shohih, hasan, dhoif, matruk, mungkar, jayyid, atau apa?
- Ulama mana yang mengeluarkan status hadits itu?
- Apa benar dia ulama hadits yang diakui di dunia hadist?
- Apa buktinya?
- Ada ga ulama lainnya yang menentang pendapat ulama tadi?
- Di mana letak pertentangannya?
- Lalu bagaimana memahami hadits itu dengan benar?
- Jika hadits itu ternyata lemah, dari sisi mana lemahnya?
- Ada ga hadits yang serupa tapi statusnya beda?
- Dari mana hadits itu kita dapet?
- Apa penerbit dan penerjemah merupakan pihak yang bisa dipercaya kredibilitas keilmuannya?
- Apa dalil-dalil yang ada adalah dalil-dalil umum atau dalil-dalil khusus?
- Apa hukumnya bisa diterapkan dengan umum atau terperinci?
- Apa kah lingkup dalil itu mutlak atau terikat dengan kondisi tertentu?
- Adakah nasikh dan mansukh dalam hal ini?
Dan sederet pertanyaan lain yang akan membawa kita pada posisi kita benar-benar paham dengan pendapat yang kita bela. Yang dengan pemahaman ini kita bisa menjawab pertanyaan dari pihak yang berbeda pendapat dengan kita, dengan jawaban yang ilmiah, bukan dengan jawaban semisal:
- Ya terserah kamu.
- Lah, ini kan masalah khilafiyah. (Hendaknya orang yang berdalil dengan kalimat seperti ini memahami, bahwa tidak setiap khilafiyah itu dianggap, karena khilafiyah yang dianggap itu bila masing-masing punya dalil yang kuat, bukan dalih yang dipaksakan. Dan juga, khilafiyah di kalangan ulama bukan alasan yang membolehkan kita mengambil pendapat yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan kita. Hendaklah kita jujur mengamalkan amanat ilmiah, katakan yang benar itu benar, yang salah itu salah, dengan bukti)
- Aku mah ngikut-ngikut aja lah.
- Katanya sih gitu.
- Mmmm, kalo ga salah sih gitu.
- Wah, ga tau tuh, hehe.
Dan jawaban-jawaban lain yang menunjukkan bahwa si pembela tidak membela pendapat dengan pemahaman yang benar, ntah apa alasannya.
Dengan demikian, marilah kita mengoreksi diri-diri kita, buka kembali buku-buku para ulama, pahami, pahami, jika sudah paham, amalkan, karena ilmu bukan untuk dikoleksi, tapi untuk diamalkan.
Kemudian, untuk melakukan ini, ga sedkit pengorbanannya. Waktu, jelas lama. Biaya, jelas buat beli buku. Teringat dengan kalimat yang pernah dikatakan salah satu ustadzku, beliau lulusan fakultas hadits Universitas Madinah, secara bebas aku kutip sebagai berikut,
“Kalo antum belajar hadits, antum akan bangkrut, karena kitab hadits itu paling banyak di antara ilmu-ilmu yang lain.”
Akhi, ukhti, bahkan Imam Syafi’i Rohimahulloh pernah berkata:
“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan jelaskan padamu. Kecerdasan, kemauan keras, kesungguhan, bekal, bimbingan ustadz, dan waktu yang lama.” (Au Kama Qola)
Maka, mari koreksi diri-diri kita, semoga Alloh memudahkan urusan-urusuan kita. Wallohu a’lam.