Hakikat dakwah tauhid
26 Sep 2010 Leave a Comment
in Serius
Ya akhi, ya ukhti, sungguh benar apa yang dikatakan oleh ibunda kita tercinta, ‘Aisyah Rodhiallohu’anha:
“Sesungguhnya surat yang pertama kali turun adalah berbicara tentang surga dan neraka, sehingga tatkala manusia telah menerima Islam maka turunlah syariat halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun ‘Janganlah kalian meminum khomr’ niscaya mereka akan mengatakan, ‘Kami tidak akan meninggalkan khomr selamanya.’ Dan seandainya turun, ‘Janganlah kalian zina’, niscaya mereka akan mengatakan, ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’” (HR. Bukhori, di dalam majalah Al Furqon IV/6, Bila Musibah Datang)
Ya akhi, ya ukhti, inilah hakikat dakwah tauhid, membangkitkan hati-hati manusia untuk merdeka dari penjajahan apapun, dan menjadikan hati itu tunduk pada setiap perintah dan larangan Alloh. Dan jika hati manusia telah tunduk, maka dengan mudah engkau akan dapat menyampaikan tentang halal haram.
Tidakkah kalian dapati di dalam siroh, apa yang terjadi di madinah ketika Alloh Subhanahu wa ta ‘ala menurunkan ayat pengharaman khomr? Jalan-jalan Madinah “banjir” dengan khomr karena Sahabat Rodhiallohu’anhum serentak membuang sisa-sisa khomer yang masih ada di rumah-rumah mereka. Itulah ketundukan!
Buka lagi siroh mu wahai saudaraku, temukan, apa yang terjadi ketika Alloh menurunkan ayat hijab? Maka serentak para Shohabiah Rodhiallohu’anhunna mengambil apapun yang mereka temui disekitar mereka untuk menutup diri-diri mereka. Itulah ketundukan!
Itulah ketundukan yang dibangun di atas aqidah yang kokoh, maka mulailah dakwah dengan meluruskan aqidah kita dan aqidah umat!!
Ya akhi, ya ukhti, renungilah perkataan ibunda kita di atas, tanamkan dulu aqidah di hati-hati kaum muslimin, mulailah dengan dakwah tauhid. Karena bila tauhid itu telah tegak di hati-hati mereka, maka dengan sendirinya mereka akan berusaha melakukan hukum Alloh yang lain. Belajarlah dari mereka-mereka yang terasing, di mana ketundukan mereka kepada Al Haq membuat mereka menjadi asing di tengah masyarakat, di cela kampungan, kolot, dan lain sebagainya. Namun itu tidak membuat mereka bergeming, karena aqidah yang kuat telah menancap di hati-hati mereka, di mana mereka tidak lagi butuh pada pujian manusia, juga tidak terganggu dengan celaan manusia, karena cukuplah bagi mereka pujian dari Robb semesta alam, wallohu a’lam.