Ilmu, amal, dakwah, dan istiqomah (SB1)
29 Sep 2010 Leave a Comment
in Serius
Ketahuilah, ada 4 hal yang dibutuhkan oleh setiap muslim dalam hidup ini, yaitu ilmu, amal, dakwah, dan istiqomah.
Ilmu, yaitu engkau mengenal Alloh, mengenal Rosululloh, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya, bukan sekedar mengikuti tradisi yang ada di masyarakat, bukan dengan bermodal perasan, bukan dengan dugaan dan kira-kira semata, bukan juga dengan logika dan hawa nafsu saja.
Dalil, yaitu apa yang menjadi dasar bagi keyakinan, ucapan, dan perbuatanmu. Dalil hanyalah Al Qur’an dan Sunnah yang sah dari Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam. Dan dalil itu harus dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Sahabat Rodhiallohu’anhum dan orang-orang yang mengikuti Sahabat dalam kebaikan.
Mengapa harus didasari dalil? Karena setiap perkataan, perbuatan, hati, dan semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
Lantas, darimana kita dapatkan ilmu untuk dalil bagi perbuatan kita? Tentunya dengan belajar. Berkata Imam Syafi’i, “Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan jelaskan padamu, yaitu kecerdasan, kemauan keras, kesungguhan, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang lama.”
Kecerdasan, aku yakin kalian memilikinya. Maka jagalah, asahlah, dan jangan kalian rusak akal kalian. Di antara yang dapat menguatkan dan mengasah akal adalah menghapal dan mentadaburi Al Qur’an dan sunnah serta mentelaah kitab-kitab para ulama, bersiwak, minum madu, dan lainnya, maka lakukanlah. Sedangkan yang dapat merusak akal adalah memandang yang haram, rokok, minuman keras, banyak makan, banyak bicara, banyak tertawa, banyak tidur, banyak bermain, dan lainnya, maka jauhilah.
Kecerdasan juga adalah pembeda antara dirimu dengan hewan. Kecerdasan membuatmu memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan buruk, maka jangan engkau sia-siakan kecerdasanmu. Janganlah engkau taklid (mengikuti sesuatu tanpa paham apa yang diikuti) sebagaimana hewan ternak yang diikat hidungnya, kemanapun dia ditarik, dia mengikutinya, meskipun seringkali dia ditarik menunju tempat penyembelihan yang membinasakan dirinya.
Kecerdadan adalah modal kita untuk memahami suatu masalah dengan objektif, sehingga kita tidak terombang ambing di tengah berbagai paham yang ada di sekitar kita. Maka gunakan kecerdasanmu untuk mencari kebenaran, jangan biarkan dirimu menelan mentah-mentah setiap perkataan tanpa meneliti terlebih dahulu kebenarannya, sekalipun itu perkataan gurumu atau pemimpinmu! Berkata imam Malik, “Setiap perkataan bisa diterima bisa ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini (beliau menunjuk kubur Rosululloh).”
Kemauan keras, adalah hal kedua yang harus dimiliki seseorang yang ingin mendapatkan ilmu. Ingatlah betapa besarnya kemauan kita terhadap dunia, begitu besar pengorbanan yang kita lakukan untuknya. Namun, apa yang telah kita lakukan untuk akhirat? Bukankah menuntut ilmu adalah jalan menuju surga? Lantas di mana pengorbanan kita untuk mendapatkan surga itu? Berkata asy Syafi’i, “Aku heran dengan surga, bagaimana orang yang menginginkannya kerjanya tidur saja. Aku pun heran dengan neraka, bagaimana orang yang lari darinya kerjanya tidur saja.”
Sungguh-sungguh juga menjadi hal yang mesti dimiliki seorang penuntut ilmu. Maka bagaimana mungkin engkau mendapat ilmu dengan bermalas-malasan? Sekali lagi, bandingkanlah dengan sungguh-sungguhnya dirimu saat mengejar ilmu dunia, berapa jam dalam sehari yang engkau tempuh dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya? Lantas, adakah satu jam saja dalam sehari yang engkau berikan dengan sungguh-sungguh untuk akhiratmu?! Berkata seorang penyair, “Engkau menginginkan sesuatu tapi tidak menempuh caranya, maka bagaimana mungkin perahu dapat berlayar di gurun sahara?!”
Bekal pun dibutuhkan dalam usaha mencari ilmu. Lihatlah buku-buku yang engkau miliki, bukankah itu dibeli dengan uang? Namun, cobalah cek sekali lagi, berapa persen dari bukumu itu yang merupakan buku agama? Lantas apa sisanya? Buku dunia, bahkan sebagiannya mungkin adalah buku-buku tak berguna seperti komik dan novel-novel cengeng. Lantas di mana kitab tafsir, hadits, fiqh, siroh, dan lainnya? Maka mulailah menabung, jangan engkau sia-siakan hartamu saudaraku…
Bimbingan guru mutlak dibutuhkan oleh orang yang ingin menuntut ilmu agama, maka datangilah ustadz-ustadz yang mengajarkan agama yang benar, yang berdasar pada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Sahabat. Tinggalkan ustadz-ustadz gadungan yang mengajak pada fanatisme kelompok dan partai, yang mengajak pada taklid buta kepada dirinya, terlebih lagi ustadz-ustadz yang mengajak kepada jama’ah-jama’ah ngawur, seperti jama’ah yang meminta anggotanya melakukan bai’at atau syahadat ulang.
Waktu yang lama adalah hal keenam yang harus dimiliki penuntut ilmu. Cobalah engkau hitung, sudah berapa tahun kau habiskan untuk menuntut ilmu dunia, lalu apa hasilnya? Apakah sekarang engkau merasa telah menjadi orang berilmu seperti doktor atau profesor? Tentu belum… Lantas, berapa tahun yang telah engkau lalui untuk menuntut ilmu agama? Adillah wahai saudaraku, mulailah atur waktumu, mana untuk dunia, dan mana untuk agama, jangan engkau berandai-andai “Ah, nanti saja”, karena itu tipuan dunia.
Sungguh ironis jika kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk ilmu dunia namun kita masih haus terhadapnya. Sebaliknya, kita habiskan hanya beberapa saat saja untuk ilmu agama, lalu kita merasa kenyang terhadapnya.
Jangan engkau tertipu dengan dunia dengan menunda-nunda mengurus akhiratmu, karena sesungguhnya engkau tak tahu kapan ajal menjemputmu… Berkata seorang penyair, “Telah menikah penundaan dengan kemalasan, kemudian melahirkan penyesalan.” Maka berhentilah menunda! Mulailah belajar, belajar, dan belajar, dan jika sudah paham, maka amalkan!
Amal, yaitu engkau menerapkan ilmumu dalam kehidupanmu, karena ilmu adalah untuk diamalkan, bukan sekedar dikoleksi. Orang alim adalah yang mengamalkan ilmunya meskipun ilmunya sedikit, sedangkan orang jahil adalah yang tidak mengamalkan ilmunya meskipun ilmunya banyak.
Ketahuilah bahwa ilmu bukanlah tujuan, namun hanya sekedar sarana untuk beramal dengan benar. Sungguh beruntung orang yang berhasil menanam pohon ilmu, lalu pohon itu membuahkan amal yang benar, banyak, lagi kontinyu. Sebaliknya, sungguh bodoh dan merugi orang yang tidak mengamalkan ilmunya, semoga kita terhindar dari yang demikian.
Dakwah, yaitu engkau mengajak manusia untuk mengilmui dan mengamalkan apa yang telah engkau ketahui sebagai suatu kebenaran, bukan sekedar mengajak tanpa memahami ke arah mana engkau mengajak mereka. Maka berhati-hatilah dalam berdakwah, jadilah engkau perantara kepada petunjuk, jangan justru menjadi perantra kepada kesesatan.
Terakhir, istiqomah, yaitu keberlangsungan yang terus menerus dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Hendaklah kita senantiasa istiqomah di atas kebenaran seberat apapun ujian dan keterasingan yang kita alami. Ingatlah, dunia ini memang ladangn ujian, maka lewati dengan baik agar kita selamat dan mendapat surga, karena tidak ada kesusahan lagi jika kita masuk surga, namun tidak ada kemudahan lagi jika kita masuk neraka. Dan jangan sekali-kali kalian mati, melainkan dalam keadaan Islam.
Inilah empat hal yang semestinya dimiliki setiap muslim dalam menjalani hidup ini. Semoga kita dijadikan mukmin yang dimudahkan untuk giat menuntut ilmu, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan istiqomah menjalani ketiganya, aamiin…
Saudaraku, bayangkan jika ada seorang raja yang mengundangmu tinggal di istananya? Tentu engkau akan senang, lalu segera mempersiapkan segala sesuatunya. Maka ketahuilah, ada yang jauh lebih mulia dari pada sekedar raja telah mengundangmu menuju tempat yang jauh lebih megah dan indah daripada sekedar istana, Dia lah Alloh yang telah mengundangmu menuju surga, maka bersegeralah, bersegeralah penuhi undangannya. Persiapkan perbekalan yang engkau butuhkan, yaitu amal dan dakwah yang dibangun di atas ilmu, yang dilakukan dengan istiqomah…
Demikian, kebenaran datangnya dari Alloh, sedangkan kesalahan dari saya dan dari bisikan syoiton.
Wallohu a’lam.