Mengenal Alloh, Rosululloh, dan Agama Islam (SB-2)

Ketahuilah, sesungguhnya ada tiga hal yang diperlukan oleh setiap muslim dalam kehidupan ini, yaitu mengenal Alloh, mengenal Rosululloh, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Mengenal Alloh, Rosululloh, dan agama Islam yang dimaksud bukan sekedar mengetahui ada dan tidaknya ketiga hal itu, tapi yang dimaksud adalah pengenalan yang benar yang membuat kita mencintai ketiga hal tersebut, dan cinta yang dimaksud tentunya bukan sekedar ungkapan di bibir saja, tetapi yang dimaksud adalah cinta yang diiringi dengan PEMBUKTIAN berupa amal sholeh dalam kehidupan sehari-hari.

Alloh, Dia lah Robb pencipta, penguasa, dan pengatur semesta alam, yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yang memberi rizki kepada seluruh makhluk-Nya dengan penuh keadilan, yang menghidupkan tanpa merasa sulit, dan yang mematikan tanpa rasa gentar. Dia lah Raja manusia yang tidak ada satu pun sekutu dalam kerajaan-Nya.

Alloh, Dia lah Ilah (sesembahan) yang tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar selain Dia, yang tidak ada satu pun sekutu bagi-Nya. Wajib bagi semua makhluk untuk mengesakan-Nya dalam setiap ibadah, baik itu ibadah yang tampak (seperti sholat, haji, dll), maupun yang tersembunyi (seperti cinta, takut, harap, dll).

Alloh, Dia lah pemilik nama dan sifat yang Maha Indah lagi Sempurna, yang tidak ada cacat padanya, dan yang tidak serupa dengan makhluk-Nya. Sungguh, jika kita mengetahui nama dan sifat-Nya, lalu mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat itu, maka kita akan menjadi mukmin yang sebenarnya, insya Alloh.

Alloh, Dia lah Ar Rohman, yang Maha Pengasih, yang dengan belas kasih-Nya telah mengutus para Nabi dan Rosul untuk menyampaikan petunjuk sehingga manusia tidak hidup dalam kebingungan. Barangsiapa mengikuti petunjuk maka dia akan beruntung, dan barangsiapa meninggalkannya maka dia akan celaka.

Alloh, Dia lah Ar Rohim, yang Maha Penyayang, yang telah mengkhususkan sayang-Nya kepada kaum muslimin dengan memberikan hidayah Islam kepada mereka. Maka jagalah hidayah ini dengan beramal sholeh, jangan sia-siakan hidayah ini, karena di luar sana masih banyak orang tersesat yang belum atau tidak mendapat hidayah kepada Islam.

Alloh, Dia lah Al Hakim, yang Maha Bijaksana, yang dengan kebijaksaan-Nya telah membuat agama yang cocok dengan fitrah manusia, agama yang tidak ada kesulitan di dalamnya, justru penuh dengan kemudahan. Jika engkau merasakan kesulitan dalam menjalankan agama ini, maka ketahuilah bahwa itu disebabkan oleh godaan setan dan ajakan hawa nafsu, maka lawanlah. Ingatlah, agama diturunkan untuk kebaikan manusia, maka laksanakanlah agama itu jika engkau adalah manusia yang menginginkan kebaikan.

Alloh, Dia lah Al Maulaa, yang Maha Pelindung, yang melindungi kaum muslimin dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang kafir pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Maka mintalah perlindungan hanya kepada Alloh, bukan kepada tentara setan, jin, jimat, dukun, peramal, penyihir, dll.

Lantas, bagaimana mencari perlindungan Alloh? Yaitu dengan ilmu, iman, dan amal sholeh yang ikhlas hanya untuk Alloh, berdoa, dan berusaha dengan menempuh cara-cara yang dibenarkan agama, bukan dengan cara-cara yang dilarang agama, seperti jimat dengan segala bentuknya (seperti bentuk cincin, kalung, senjata, dll), mendatangi dukun, kuburan keramat, dll. Ketahuilah bahwa Alloh menjadikan manusia bisa memilih banyak cara untuk mencapai tujuannya, tetapi Alloh hanya meridhoi orang yang menempuh cara yang benar.

Alloh, Dia lah Al Aziz, yang Maha Perkasa, yang dengan keperkasaan-Nya telah menundukkan besarnya jagat raya. Maka alangkah bodohnya bila manusia yang amat kecil ini berani menentang keperkasaan-Nya. Semoga kita tidak menjadi penerus fir’aun, hamman, qorun, dan deretan para penentang lainnya, yang berakhir dengan kebinasaan dan kehinaan.

Fir’aun, dia adalah pembangkang yang lupa diri karena kekuasaan yang dimilikinya, yang dengan sombongnya merasa dirinya adalah tuhan. Bahkan dia berkata “Aku adalah tuhanmu yang tertinggi”. Maka Alloh hancurkan kesombongannya dengan menenggelamkannya ke dalam lautan, dan kelak di akhirat dia akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Qorun, dia adalah pembangkang yang lupa diri karena kekayaan yang dimilikinya, yang dengan sombongnya merasa bahwa semua itu didapatkan semata-mata karena ilmu yang dia miliki. Maka Alloh hancurkan kesombongannya dengan membenamkannya dan seluruh hartanya ke dalam bumi, dan kelak di akhirat dia akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Hamman, dia adalah pembangkang yang lupa diri karena ilmu dan keahlian yang dimilikinya, yang dengan sombongnya membantu fir’aun dalam memerangi nabi Musa. Maka Alloh hancurkan kesombongannya, dan kelak di akhirat dia akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Demikianlah tiga contoh penentang yang telah mendapat hukuman karena ingkar kepada Alloh. Maka ingatlah bahwa kekuasaan, kekayaan, keahlian, dan yang lainnya, baik sedikit maupun banyak, pada hakikatnya adalah ujian. Siapa yang diberi sedikit hendaknya bersabar, maka itu baik baginya. Dan siapa yang diberi banyak hendaklah bersyukur, maka itu pun baik baginya. Barangsiapa bersyukur maka Alloh akan tambah nikmat padanya, dan barangsiapa ingkar maka sesungguhnya adzab Alloh sangat pedih.

Bagaimana bentuk syukur atas nikmat yang Alloh berikan? Jawabnya, syukurilah dengan hati, lisan, dan amal perbuatan. Lalu, gunakanlah nikmat itu untuk memenuhi kebutuhan yang halal, sebagai sarana ketaatan kepada Alloh, dan sarana untuk berbuat baik kepada sesama manusia, maka niscaya Alloh akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

Bagaimana bentuk sabar atas ujian atau musibah yang Alloh berikan? Manusia bertingkat-tingkat dalam masalah ini. Pertama, yang berkeluh kesah dengan musibah yang ada dengan lisan mereka dan hati mereka tidak ridho dengan takdir Alloh, maka dia menuai dosa. Kedua, yang bersabar meskipun merasakan sedih, namun lisannya terjaga dan hatinya ridho, maka dia menuai pahala. Ketiga, yang bersyukur karena mereka tahu bahwa musibah itu bisa menghapus dosa atau meningkatkan derajat mereka di sisi Alloh, maka inilah yang terbaik.

Alloh, Dia lah Ar Rozzaq, Mahapemberi Rizki, yang telah menetapkan rizki atas segala sesuatu sekaligus menetapkan sebab-sebab datangnya rizki itu. Maka kewajiban manusia adalah menempuh cara-cara yang dibolehkan syari’at dalam mencari rizki. Namun senantiasa ingatlah, bahwa di lain sisi harta benda termasuk ujian hidup.

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan bahaya tamak pada dunia. Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik, Rosul bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak akan merasa puas kecuali tanah sudah memenuhi mulutnya, dan Alloh senantiasa menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhori dan Muslim). Maksud tanah memenuhi mulutnya adalah kematian, yaitu saat tanah kuburan telah memenuhi mulut barulah dia sadar akan kefanaan harta yang menjadi tujuan hidupnya.

Rosul bersabda: “Anak Adam berkata, ‘Ini hartaku, ini hartaku.’ Padahal tidaklah anak Adam memiliki harta melainkan makanan yang telah kamu makan, pakaian yang kamu pakai yang telah usang, dan harta yang kamu shodaqohkan yang telah lewat.” (HR. Muslim). Inilah tiga harta manusia yang sebenarnya dia nikmati, dua dinikmati di dunia, dan satu menjadi tabungan di akhirat, insya Alloh. Adapun yang lain hanyalah tumpukan harta yang hanya dinikmati dengan mata dan akan dia tinggalkan ketika ajal menjemputnya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imron: 14)

Namun, di sisi lain kita tetap diperintahkah mencari rezeki, seperti firman Alloh yang artinya “..maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Alloh…” Bahkan tak sedikit Sahabat yang merupakan orang-orang kaya raya di zamannya. Lantas, bagaimana batasan mengumpulkan harta dunia yang dibenarkan dalam syari’at kita?

Yaitu dengan mencari dunia secukupnya, tanpa menjadikannya sebagai tujuan hidup. Alloh berfirman yang artinya “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan duniawi)..” (Al Qoshosh: 77). Inilah posisi seimbang yang mestinya dimiliki seorang muslim, yaitu menjadikan akhirat sebagai tujuan hakiki, tanpa meninggalkan dunia yang memang kita butuhkan.

Barangsiapa yang dunia sebagai tujuannya maka Alloh akan mencerai-beraikan urusannya, Alloh jadikan kefakiran di depan kedua matanya, dan dunia tidak akan datang melainkan apa yang Alloh sudah tuliskan untuknya. Dan barangsiapa yang akhirat tujuannya, Alloh akan satukan urusannya, Alloh jadikan kecukupan di dalam hatinya, dan dunia akan datang padanya meskipun ia tidak mengharap-harapkannya. (HR. Ahmad)

Demikianlah kita diajarkan bagaimana menyikapi dunia ini, yaitu mengambil seperlunya dan menjadikannya sebagai SARANA menuju akhirat, bukan sebagai TUJUAN utama. Kemudian, dalam berhubungan dengan usaha mencari harta benda dunia ini, setidaknya ada tiga hal yang mestinya kita praktekkan, yaitu qona’ah, zuhud, dan waro’.

Qona’ah, yaitu merasa cukup dengan nikmat Alloh yang diberikan kepada kita. Dengan sikap ini maka kita akan jadi manusia yang senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat Alloh. Maka janganlah kita menjadi manusia yang selalu berkeluh kesah dan merasa kurang, karena sesungguhnya keinginan tidak akan habis jika terus diikuti.

Zuhud, yaitu sikap sederhana dan bersahaja dalam hidup, meninggalkan yang berlebihan dari dunia meskipun sebenarnya dia mampu untuk itu, namun dengan sikap zuhudnya dia mampu membedakan antara hal yang hanya sekedar keinginan dan hal yang memang kebutuhan. Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal (seperti mengharamkan menikah, bekerja, makan daging, dll, maka ini adalah zuhud yang berlebihan), akan tetapi zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat kita.

Waro’, yaitu sikap berhati-hati dalam menjalani hidup agar tidak terjatuh pada hal yang haram. Juga berarti meninggalkan apa-apa yang kita khawatirkan bahayanya di akhirat. Inilah tiga sikap yang perlu dimiliki setiap muslim dalam hidupannya. Dan ketahuilah bahwa untuk memiliki ketiganya kita butuh pada ilmu sebagai landasannya, maka belajarlah. Semoga Alloh yang Mahapemberi rizki memudahkan dan menjaga kita dalam mencari rizki yang halal, di atas ilmu dan petunjuk.

Alloh, Dia lah Al Ghoffaar, yang Mahapengampun, yang seandainya manusia memiliki dosa sepenuh langit dan bumi, lalu bertaubat dengan sungguh-sungguh (yaitu taubat nasuha) kepada-Nya, niscaya Alloh akan datangkan ampunan sepenuh langit dan bumi juga. Maka hendaklah bertaubat orang-orang yang lalai, sebelum pintu taubat itu tertutup.

Dalam menjalani hidup ini, manusia tidak akan lepas dari dosa dan kesalahan, karena memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat. Oleh karena itu taubat adalah kewajiban seumur hidup, setiap kita sadar dari sebuah kesalahan, maka segeralah kembali kepada kebenaran dengan bertaubat, karena sesungguhnya kembali kepada kebenaran itu jauh lebih baik dan selamat daripada bertahan dalam kesalahan.

Ada tiga syarat bagi seseorang yang ingin taubat nasuha. Pertama, dia meninggalkan perbuatan dosanya. Kedua, dia menyesali perbuatan dosa yang telah dia lakukan. Ketiga, dia bertekat kuat untuk tidak melakukan dosa itu lagi. Dan jika dosa itu berhubungan dengan hak orang lain (seperti mencuri harta orang lain) maka ada syarat tambahan yaitu mengembalikan atau minta direlakan hak orang yang bersangkutan.

Imam Muslim meriwataykan hadits, Rosul menceritakan seorang yang kehilangan tunggangannya dalam perjalanan jauh, padahal perbekalan makan minumnya ada di hewan itu. Dia pun mencarinya namun tidak menemukannya, hingga dia lelah dan tertidur di bawah pohon. Saat bangun, hewan itu sudah ada di hadapannya, maka karena SANGAT bahagia dia salah berucap “Ya Alloh, Engkau hambaku dan aku Tuhan-Mu.” Maka kata Rosul, sungguh Alloh LEBIH SENANG menerima tobat hamba-Nya dari pada kegembiraan orang itu.

Telah kita ketahui bahwa anak Adam adalah tempatnya salah dan lupa. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat (HR. Tirmidzi dan Inbu Majah). Telah kita ketahui pula bahwa Alloh sangat senang menerima taubat hamba-Nya. Maka marilah kita mengoreksi diri-diri kita, mungkin ada kewajiban yang tak tertunaikan, juga mungkin ada larangan yang dilanggar, maka segeralah bertaubat kepada Alloh dengan sungguh-sungguh, karena sesungguhnya Dia adalah Al Ghoffaar, yang Mahapengampun.

Alloh, Dia lah Al Bashiir dan As Samii’, yang Mahamelihat lagi Mahamendengar. Bahkan Dia mampu mendengar bisikan dalam hati makhluk-Nya dan melihat semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam. Jika kita memahami kesempurnaan penglihatan dan pendengaran Alloh, niscaya setiap kita akan senantiasa merasakan pengawasan Alloh pada diri kita dalam setiap gerak-gerik yang kita lakukan, baik lahir maupun batin.

Dengan memahami kedua sifat ini maka kita akan memiliki sikap Muroqobatulloh, yaitu senantiasa merasa diawasi Alloh, sehingga ketika hawa nafsu mengajak berbuat maksiat, sikap tersebut akan mencegah kita dari maksiat karena kita yakin Alloh senantiasa mengawasi kita, bukan malah merasa atau berkata “Ah, tidak ada yang liat ini” atau “Ah, tidak ada yang dengar ini” atau ungkapam semisal itu. Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba yang merasakan pengawasan Alloh yang Mahamelihat lagi Mahamendengar.

Alloh, Dia lah Al Ilaah, yang Diibadahi. Maka wajib bagi setiap manusia untuk memurnikan semua ibadahnya kepada Alloh semata. Dan ibadah itu sendiri terbagi menjadi ibadah zhohir (yang nampak) dan ibadah batin (yang tidak nampak). Ibadah zhohir di antaranya adalah sholat, puasa, dan lainnya yang insya Alloh akan dijelaskan secara ringkas pada bagian Mengenal Agama Islam. Adapun ibadah batin diantaranya adalah cinta, takut, dan lainnya.

Cinta, yang dimaksud di sini adalah cinta yang bernilai ibadah, yaitu mencintai Alloh dan mencintai sesuatu karena Alloh. Cinta merupakan salah satu dasar peribadahan, bahkan orang-orang musyrik pun melandasi ibadah mereka kepada selain Alloh dengan cinta. Alloh berfirman yang artinya “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman AMAT SANGAT cintanya kepada Alloh.” (Al Baqoroh 165)

Cinta tanpa kerinduan ibarat pohon tanpa buahnya, sesungguhnya cinta kepada Alloh akan membuahkan kerinduan untuk beribadah kepada-Nya. Maka orang-orang yang mengaku mencintai Alloh hendaklah membuktikan pengakuannya dengan buah amal, berupa ketaatan untuk beribadah kepada-Nya dan senantiasa berdzikir (mengingat-Nya). Lantas, bagaimana mungkin seorang dikatakan mencintai Alloh sementara dia enggan beribadah kepada-Nya dan sering kali melupakan-Nya?

Namun, amal seperti apakah yang dikatakan merupakan bukti kecintaan kepada Alloh? Yaitu amal yang sesuai dengan ajaran Rosululloh. Bahkan Alloh menjadikan pengikutan kepada Rosululloh sebagai bukti kecintaan kepada-Nya. Alloh berfirman menguji orang-orang yang mengaku mencintai-Nya, dalam ayat yang terkenal dengan istilah ayat ujian, yang artinya “Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Ali Imron: 31)

Cinta yang berikutnya adalah mencintai Rosululloh, yaitu dengan mengutamakan beliau di atas semua manusia seluruhnya, termasuk di atas diri kita sendiri. Kemudian menjadikan beliau sebagai qudwah (teladan) karena sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik pada diri beliau (lihat Al Ahzab ayat 21), yaitu dengan mengikuti petunjuk yang telah beliau ajarkan, mengutamakan petunjuknya di atas petunjuk lainnya, serta membela petunjuk itu dari orang-orang yang membencinya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Cinta berikutnya yang bernilai ibadah adalah cinta dan benci yang didasari karena Alloh. Inilah konsep wala’ (loyalitas) dan baro’ (sikap berlepas diri) yang ada dalam Islam, yaitu memberikan loyalitas kepada kaum muslimin karena keimanan mereka dan berlepas diri dari kaum kafirin karena kekafiran mereka. Dan pengamalan wala’ dan baro’ ini merupakan bagian dari kesempurnaan iman seseorang.

Diantara sikap wala’ adalah saling menasehati kepada kebaikan dan menjauhi dosa, tolong menolong, menyebarkan ilmu, dan lain-lain. Diantara sikap baro’ adalah tidak memberi salam kepada orang kafir, tidak mengucapkan selamat pada hari raya mereka (seperti selamat natal, dan lain-lain), tidak hadir pada acara-acara hari raya mereka, dan lain-lain. Sungguh para ulama (termasuk MUI) telah memfatwakan haramnya ucapan selamat hari raya pada orang kafir dengan alasan apapun, karena hal demikian berarti kita memberi selamat atas kekafiran mereka.

Alloh berfirman yang artinya “Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya.” (Al Mujadilah 22) Demikianlah semestinya keadaan seorang muslim, yaitu baro’ kepada kaum kafir. Namun, di sisi lain kita tetap diperbolehkan bermuamalah (misal jual beli) dan berakhlak baik dengan mereka, dalam hal-hal yang tidak dilarang oleh syari’at.

Demikianlah cinta-cinta yang bernilai ibadah, semoga kita bisa menempatkannya pada posisi yang benar hingga kita merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Rosul “Ada tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada dalam dirinya, maka ia dapat merasakan manisnya keimanan, yaitu jika ia mencintai Alloh dan Rosul-Nya lebih dari yang lainnya, jika ia mencintai orang lain semata-mata karena Alloh, dan jika ia benci kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Alloh darinya, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam neraka.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Takut, sesungguhnya takut itu ada tiga macam. Pertama, takut yang merupakan tabiat manusia, seperti takut pada hewan buas dan lainnya. Kedua, takut yang tercela, yaitu takut pada sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti, seperti jin, kuburan, tempat yang dianggap keramat, dan lain-lain. Ketiga, takut yang termasuk ibadah, yaitu takut kepada Alloh, berupa rasa takut yang dilandasi karena keagungan Dzat yang ditakuti, yang dengan rasa takut ini maka lahirlah sikap menjauhi larangan-Nya, karena takut dengan adzab-Nya yang pedih.

Sesungguhnya takut kepada Alloh adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Alloh berfirman yang artinya “…orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut akan (adzab) Robb mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya…” (Al Anbiya’ 48-49). Juga sabda Rosul “Tidak sesuatupun yang lebih dicintai Alloh Ta’ala daripada dua tetesan dan dua bekas. Dua tetesan itu ialah tetesan air mata karena takut kepada Alloh dan tetesan darah yang mengalir di jalan Alloh…” (HR. Tirmidzi). Semoga kita menjadi muslim yang menjaga rasa takut kepada Alloh dimanapun kita berada.

Harap, yang dimaksud di sini pun adalah harap yang termasuk ibadah, yaitu hanya mengharap dan meminta pertolongan kepada Alloh semata atas segala permasalahan kita, tidak kepada selainnya. Demikian juga kita hanya mengharap ganjaran dan ridho dari Alloh semata atas amal-amal kita, sehingga ibadah kita menjadi ibadah yang ikhlash, bersih dari unsur riya. Rosul bersabda “Bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada Alloh; bila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Alloh.” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah setiap ibadah (baik yang tampak maupun yang tidak) semestinya dilandasi dengan CINTA kepada Alloh, sembari mengHARAP ganjaran-Nya dan TAKUT siksa-Nya, yang semuanya itu harus dimurnikan untuk Alloh semata, karena Dia lah Al Ilah, yang berhak diibadahi. Demikian pula Alloh masih memiliki nama dan sifat lainnya, yang setiap nama dan sifat itu mengandung makna yang agung jika kita mau mempelajarinya, sehingga kita semakin MENGENAL ALLOH, yang dengan hal itu menjadikan kita semakin beriman dan dekat kepada-Nya, semoga…

Rosululloh, beliau adalah Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Muththolib bin Hasyim. Hasyim dari suku Quraisy, dan Quraisy dari bangsa Arab, dan bangsa Arab dari keturunan Isma’il, dan Isma’il adalah putra Ibrohim. Beliau adalah Nabi dan Rosul terakhir yang tidak ada lagi Nabi dan Rosul setelah beliau. Beliau membawa agama Islam yang sempurna yang menghapus semua agama selainnya. Beliau berdakwah tiga belas tahun di Makkah, lalu hijrah ke Madinah dan berdakwah di sana selama sepuluh tahun, kemudian beliau wafat, Sholallohu ‘alaihi wa sallam.

Ketahuilah, sesungguhnya MENGENAL ROSULULLOH tidak cukup dengan hanya mengenal kapan lahirnya, kapan isro’ dan mi’rojnya, dan kapan wafatnya. Akan tetapi yang dimaksud dengan mengenal beliau adalah mengenal ajarannya, lalu menjadikan beliau sebagai suri tauladan bagi kita dalam setiap sendi kehidupan, karena beliaulah sebaik-baik tauladan. Beliau tidak mewariskan harta benda kepada kita, akan tetapi beliau telah mewariskan ilmu, maka barangsiapa ingin mengenal beliau, maka kenalilah warisannya, yaitu dengan MENGENAL ISLAM.

Islam, adalah agama yang sempurna, dalilnya adalah firman Alloh dalam ayat yang terakhir diturunkan, yang artinya “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu…” (Al Maidah 3). Dengan demikian Islam tidak menerima penambahan, pengurangan, dan perubahan. Dan Islam yang sempurna ini terdiri dari tiga tingkatan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.

Islam, yaitu engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, dan engkau mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Romadhon, dan menunaikan haji ke Baitulloh jika mampu. Inilah rukun Islam yang diawali dengan persaksian pemurnian ibadah kepada Alloh, dan persaksian bahwa tidak ada ibadah kecuali dengan apa yang diajarkan Rosululloh. Baru kemudian diikuti dengan amal-amal anggota badan yang dilakukan dengan dasar ikhlash dan ittiba’ (mengikuti ajaran Rosul).

Sholat, inilah amal yang dikatakan sebagai tiang agama, maka apalah jadinya sebuah bangunan tanpa adanya tiang? Ketahuilah, sholat adalah amalan yang pertama dihisab, yang jika amal ini baik maka akan baiklah amal lainnya, dan sebaliknya. Sebagai gambaran akan pentingnya sholat adalah fakta bahwa semua perintah selain sholat disampaikan dengan perantara wahyu yang dibawa oleh Jibril, sedangkan sholat disampaikan langsung oleh Alloh kepada Rosululloh, di atas langit ketujuh di malam mi’roj.

Rosul bersabda: “Barangsiapa menjaga sholat maka baginya adalah cahaya, bukti, dan keselamatan besok pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, bukti, dan keselamtan, dan besok pada hari kiamat akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Kholaf.” (HR. Ahmad). Maka hendaklah kita senantiasa menjaga sholat kita dengan baik, jangan kita terlalaikan dengan harta seperti Qorun, dengan kekuasaan sebagaimana Fir’aun, dan dengan pekerjaan layaknya Haman dan Ubai bin Kholaf.

Menjaga sholat adalah melakukannya dengan benar, yaitu dengan ikhlash karena Alloh dan mengikuti contoh dari Rosul. Rosul bersabda “Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat.” (HR. Bukhori dan Muslim) Yaitu dengan mempelajari sholat yang benar, baik secara lahir (tata cara gerakan, tempat, waktu, dll), maupun batin (ikhlash, khusyu, dll) yang telah Rosul jelaskan dalam hadits-haditsnya yang dapat kita temui di kitab-kitab sholat, di antaranya yang terbaik adalah kitab Sifat Sholat Nabi karya syaikh Al Albani.

Sungguh dengan berjalannya waktu dan berpalingnya manusia dari ilmu agama telah menyebabkan banyak penyimpangan dalam tata cara sholat, betapa banyak kesalahan yang terjadi dan betapa banyak sunnah yang menjadi asing di tengah masyarakat. Seringkali ditemukan tata cara yang tidak sesuai dengan yang diajarkan Rosul dan seringkali pula ketika seorang menegakkan sunnah dalam sholat maka akan dianggap aneh oleh masyarakat. Demikianlah fenomena jauhnya umat dari sholat yang benar secara lahir, belum lagi secara batin.

Demikian juga secara batin telah terjadi penyimpangan dalam sholat, seperti malas, tidak khusyu, buru-buru, dll. Ingatlah ketika adzan dikumandangkan, “Mari mengerjakan sholat, mari menuju kemenangan”, maka bersegeralah menyambut seruan kemenangkan itu, yaitu dengan menunaikan sholat, dan kerjakanlah sholat dengan khusyu serta tidak terburu-buru, agar sholat itu berbekas pada jiwa, sebagaimana firman Alloh yang artinya “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Al Ankabut: 45)

Sesungguhnya pada awalnyan Alloh memerintahkan sholat wajib sebanyak lima puluh kali sehari semalam, kemudian diringankan menjadi hanya lima kali saja. Lantas, apakah kita masih keberatan melaksanakannya? Bukankah Alloh telah memberikan nikmat waktu 24 jam per hari bagi kita? Maka apalah susahnya menyisihkan beberapa menit saja untuk sholat? Ingatlah bahwa bukti kecintaan kepada Alloh adalah kerinduan untuk beribadah kepada-Nya, sementara sholat adalah ibadah yang mulia di sisi Alloh, maka janganlah menyia-nyiakannya.

Sebagaimana sholat memiliki tata cara mengerjakannya, demikian pula puasa, zakat, dan haji, masing-masing memiliki tata caranya yang telah Rosul jelaskan, yang dapat kita temui pada kitab-kitab fiqh seperti kitab Al Wajiiz fii Fiqhis Suunah wal Kitaabil ‘Aziz karya ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi yang juga memuat panduan amal-amal lainnya. Maka hendaklah kita mempelajarinya agar amal-amal kita menjadi amal yang benar, yaitu yang ikhlash dan sesuai dengan contoh Rosul. Inilah Islam yang dibangun di atas lima rukunnya.

Adapun Iman terdiri dari enam rukun, yaitu iman kepada Alloh, kepada Malaikat-malaikat-Nya, kepada Kitab-kitab-Nya, kepada Rosul-rosul-Nya, kepada hari akhir, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Iman kepada hari akhir yaitu mengimani akan datangnya hari akhir, yang disertai usaha menyiapkan perbekalan untuk menghadapinya, yaitu dengan amal sholih. Alloh berirman yang artinya “…(yaitu) di hari ketika tidak berguna harta dan anak, kecuali orang yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.” (Asy Syu’aro 88-89). Maka segeralah berbekal!!!

Ihsan adalah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu. Inilah sikap yang lahir dari tingginya keimanan seseorang kepada Alloh. Alloh berfirman yang artinya “Kalian tidak berada dalam suatu keadaan, tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an, dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya.” (Yunus 61). Inilah tiga tingkatan dalam agama, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.

MENGENAL ISLAM tidak terlepas dari mengenal sunnah. Sunnah yang dimaksud di sini bukanlah terbatas dalam pengertian hukum ibadah, yaitu ibadah yang bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Akan tetapi yang dimaksud sunnah di sini adalah apa-apa yang datang dari Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam, baik perkataan, perbuatan, atau persetujuan beliau, baik dalam keyakinan maupun amalan. Dengan kata lain, Islam itu adalah sunnah, dan sunnah itu adalah Islam.

Demikianlah tiga perkara yang semestinya diketahui oleh setiap muslim, yaitu mengenal Alloh Subhanahu wa ta’ala, mengenal Rosululloh, dan mengenal Islam dengan dalil-dalilnya. Dengan mengetahui dan mengamalkan konsekuensinya maka diharapkan akan menjadikan setiap muslim sebagai pribadi yang mengetahui hakikat dan tujuan keberadaanna di dunia yang fana ini, sehingga dia tidak lalai dari negeri akhirat yang kekal, negeri yang hanya ada dua kemungkinan, apakah kenikmatan abadi dalam surga,atau siksa pedih dalam neraka, maka silahkan kita memilihnya.

Sebagai penutup, marilah kita merenungkan tentang suatu yang dicari oleh setiap manusia, yaitu kebahagiaan. Orang yang yakin bahwa kebahagiaan akan diperoleh dengan harta, maka dia akan bekerja keras untuk mendapatkannya. Demikian pula orang yang yakin bahwa kebahagiaan akan diperoleh dengan tahta, maka dia pun akan kejar tahta itu. Demikianlah pula dengan yang lain. Akan tetapi, seperti itukah kebahagiaan yang sejati? Kebahagiaan yang kekal? Kebahagiaan yang bukan kebahagiaan sesaat lalu berakhir dengan kesengsaraan dunia akhirat? Maka yakinilah bahwa kebahagiaan itu seluruhnya milik Alloh, maka jika kita menginginkannya maka minta lah kepada-Nya, dengan iman dan amal sholeh, sehingga akan kita dapati kebahagiaan yang hakiki di dunia ini, dan kebahagiaan yang jauh lebih tinggi di negeri akhirat nanti, insya Alloh…

Demikianlah, maaf jika ada yang tidak berkenan, kebenaran datangnya dari Alloh, sementara kesalahan karena kelemahan kami, wallohu a’lam walhamdulillah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog yang laen:

kaptenbombay.wordpress.com salafyipb.wordpress.com waroengbombay.wordpress.com

Renungkan!!!

Wahai ikhwan abal-abal yang hobinya tebar-tebar pesona!! Apalah gunanya engkau dikenal oleh banyak akhwat di dunia bila tak satu pun bidadari surga yang sudi bahkan untuk sekedar melihat wajahmu?!

Maaf…

Pesan ini ditujukan kepada siapapun yang pernah berinteraksi dengan saya. Jika saya ada salah dalam bentuk apapun, maaf ya.. Dan jika ada praduga dan prasangka di hati anda, tak perlu sungkan untuk mengklarifikasikannya ke saya, ke didi_palaz@yahoo.com. Demikian juga bila ada kritik, saran, atau yang lainnya...
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.