Bombay???
15 Nov 2010 Leave a Comment
in Nyantai
Bombay???
Yah, begitulah ekspresi yang umumnya terjadi saat aku kenalan sama orang. Bombay bukanlah namaku, namun itu panggilan yang paling sering kupake selama kurang lebih enam tahun ini, panggilan yang berawal dari keisengan temen di zaman SMA dulu.
Tamat SMP di sebuah desa kecil di daerah pedesaan Lampung Selatan, orang tuaku mengirimu ke Bandar Lampung untuk melanjutkan sekolah, di sana aku diterima di SMA N 2 Bandar Lampung, dan tingggal di rumah bibi di Sukarame.
Anak kampung sekolah di kota, ya begitulah, kuper n gaptek. Bahkan ketika untuk pertama kalinya belajar komputer, masuk lab komputer, duduk di depan layar trus bu gurunya bilang “Ya, buka mikroskopnya”, maka aku tingak-tinguk nyari mikroskop, hahaha, dikemudian hari aku tau ternyata si ibu bilang “Microsoft”, bukan mikroskop.
Dengan kegaptekan dan kekuperan itulah akhirnya aku yang pendiam pun semakin menjadi pendiam. Tapi dengan menjadi pendiam itulah akhirnya aku fokus belajar dan ga sering maen ke sana ke sini hingga ga nyangka, bener-bener ga nyangka nih, setelah menjadi rangking satu kelas 1.4 di semester satu, eh di semester duanya jadi rangking 3 kelas pararel (dulu kelas satunya ada sembilan kelas), yang membawaku harus masuk ke kelas 2.1, kelas unggulan yang isinya hasil seleksi akademis dari kelas satu.
Jiah, masuk kelas 2.1, hari pertama, begitu masuk kelas dah ngeliat anak-anak dengan tampang serius, beberapa pake kacamata, beberapa begitu khusyu membaca buku, bahkan aku sempet liat salah satu anak yang ngebaca buku begitu tebel (walaupun di kemudian hari aku tau kalo itu ternyata novel, gedubrak. Pelajaran penting, jangan tertipu dengan penampilan orang!!!). Duh, kok rada menyeramkan nih kelas, jadi rada minder, dan lagi-lagi jadi semakin pendiem.
Begitu pendiemnya hingga ketika ada temen baru yang nanya ini itu aku sering jawab dengan geleng-geleng kepala, dan dari sinilah sejarah Bombay dimulai..
“Lu kok geleng-geleng kepala mulu sih, kaya orang India, gua panggil Bombay aja ya?” ledek temenku. Ha? Ga ah, ga mau. Eh, tu orang malah beneran manggil Bombay, dan temen-temen yang lain juga jadi ikut-ikutan. Pada tahap ini aku masih sebel dengan panggilan itu.
Semakin hari, makin banyak yang manggil aku dengan sebutan Bombay, termasuk temen-temen dari kelas laen, bahkan beberapa guru juga ikut-ikutan. Termasuk guru olahraga yang malah manggil aku “Vijay”, modifikasi tingkat lanjut sepertinya dari beliau.
Sampe di sini, meskipun sebel, tapi cuma bisa pasrah aja dipanggil gitu. Hingga tiba liga smanda (liga sepak bola di sekolah) akan dimulai, setiap kelas buat kostum kelas, termasuk kelasku. Aku pesen kaos dengan nomor punggung satu dan nama “DIDI”.
Setelah cukup bikin anak-anak kesel karena ni kaos ga jadi-jadi, akhirnya tibalah kaos itu dateng ke kelas, pada rebutan nyari kaosnya masing-masing, dan, kok kaosku ga ada ya?? Eh, tiba-tiba ada yang ngasih kaos dengan nomor punggung satu dan nama “BOMBAY”. Grrrrrrr, hampir kubuang tu kaos, tapi ga jadi karena dah mahal-mahal belinya. Hhhh…
Tibalah pertadingan pertama yang aku ikuti dengan memakai kaos itu, dan tentu saja, jadi semakin banyak yang tau tentang nama itu, secara yang nonton banyak, termasuk adek dan kakak kelas, hadohhhhhh!!!
Tapi kemudian berlahan aku mulai menerima, bahkan jadi nyaman, karena nama ini di sisi lain membuatku jadi bisa bergaul dengan banyak orang, dan berlahan meninggalkan Didi si pendiam, menjadi Bombay yang, rada bawel, hehe.
Selama liga smanda, dua kali aku jadi Man of The Match, haha, kok bisa ya, dengan gaya maen bola yang berbahaya baik bagi lawan maupun teman gitu aku jadi Man of The Match, bahkan pernah sekali masuk ke dalam formasi The Dream Team, hihihi, masih ga habis pikir sampe sekarang bisa-bisanya tuh terjadi.
Tapi yang jelas, ya tadi, aku beralih nyaman dengan panggilan Bombay, kemudian untuk sedikit bikin keren, akhirnya ditambah dengan kata kapten, maka jadilah Kapten Bombay, hehe, begitulah ceritanya..