Fenomena Perpecahan Umat Islam
15 Nov 2010 Leave a Comment
in Serius
Pada dasarnya perpecahan itu dilarang sebagaimana firman Alloh ‘Azza wa Jalla yang artinya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron [3]: 103)
Tapi merupakan kebijaksanaan Alloh, ketika Dia melarang sesuatu, maka Dia jadikan sesuatu itu sebagai ujian, sebagaimana Alloh mengharamkan khamr dan babi, tapi Dia tetap menciptakannya, Maha Suci Alloh dengan segala perbuatan-Nya yang penuh kebijaksaan. Inilah ujian itu, apakah kita mampu menjalaninya, atau tidak, semoga Alloh menguatkan kita menghadapi ujian ini. Maka, ujian berupa perintah menjauhi perpecahan, adalah berupa kenyataan terjadinya perpecahan itu sendiri. Apakah kita akan ikut berpecah belah, atau bertahan pada kelompok yang dimenangkan??
Sekarang, mari kita pahami hadits Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
“Orang yahudi telah telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua kelompok, orang nashrani juga telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua kelompok, dan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok.[1] Semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu al Jama’ah.”[2]
Hadits dari Mughirah bin Syu’bah Rodhiallohu’anhu:
“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang dimenangkan Alloh, sampai datang hari kiamat dan mereka tetap dalam keadaan demikian.”[3]
Pertanyaannya, siapa jamaah yang dimaksud? Siapa kelompok yang dimenangkan? Maka sebelum kita membahas itu, mari kita cek kebenaran hadits perpecahan di atas dengan kondisi nyata, ga usah jauh-jauh, kita lihat saja di kampus. Ini beberapa fenomena perpecahan yang aku temui di kampusku, dan sepertinya ga jauh berbeda dengan di kampus kalian:
- Pihak-pihak yang menekankan dakwahnya pada kekusaan. Mereka bergabung dalam partai-partai politik dalam sebuah kancah sistem demokrasi yang menuhankan suara mayoritas. Ciri mereka jelas sekali karena orang-orang seperti inilah yang mendominasi dakwah di kampus.
- Pihak yang menyerukan berdirinya negara Islam, mereka ada dua. Satu pihak berdakwah terang-terangan menentang pemerintah. Satu pihak lagi bergerak dengan berusaha mendirikan negara sendiri yang menurut mereka adalah negara Islam.
- Pihak yang menekankan dakwahnya pada ibadah dan ibadah. Sayangnya semangat beribadah tersebut dibangun di atas persangkaan tanpa dalil.
- Pihak yang dalam dakwahnya mengaggap kafir orang-orang yang di luar kalangan mereka. Mereka menetapkan bai’at (janji setia setiap anggota pada pimpinannya masing-masing). Mereka menganggap orang di luar mereka najis sampai-sampai bila kita masuk masjid mereka, langsung deh di pel tu masjid.
- Pihak yang menyerukan kebebasan berpikir tentang kebebasan beragama sebebas-bebasnya, menyamakan setiap agama, sampai pada level mengkritik Al Qur’an.
- Pihak yang menekankan dakwahnya pada usaha mengembalikan umat pada agamanya yang murni, berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat.
- Dan lainnya.
Lalu, yang mana yang merupakan kelompok yang akan dimenangkan?
Jawabannya, ya kembali pada apa yang dikabarkan oleh Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Alloh, patuh dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak habasyi. Sesungguhnya siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah pada sunnah itu dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Waspadalah, jangan sekali-kali mengadakan perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[4]
Merekalah kelompok itu, mereka yang berpegang teguh pada sunnah, mereka bukanlah kelompok-kelompok fisik yang memiliki pemimpin, organisasi, bendera, dan partai. Bukan, bukan hal itu yang membuat mereka menjadi kelompok. Satu-satunya hal yang membuat mereka sebagai kelompok adalah KOMITMEN mereka untuk berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, yang secara singkat mereka disebut Salafy, yaitu mereka yang mengikuti pemahaman para Salafush Sholeh (pendahulu yang sholeh dari kalangan Sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik). Inilah kelompok itu, yang bersambung dari masa ke masa, hati-hati mereka bersatu dalam pemahaman meskipun mereka terpisah oleh jarak dan waktu, kelompok yang terbentuk dalam ikatan pemahaman, bukan ikatan-ikatan fanatisme kelompok seperti ikatan partai dan lainnya.
Kemudian, jika ada yang berkata, “Tapi kan tujuan kelompok-kelompok yang ada itu sama, yaitu memperjuangkan Islam”, maka dapat dijawab dari beberpa sisi:
- Perlu ditanya, benarkan tujuan semua kelompok ini sama? Tidak adakah ambisi-ambisi tersembunyi di balik gerakan dakwahnya?
- Kita bukanlah yahudi yang memiliki slogan “Tujuan menghalalkan segala cara”, Alloh dan Rosul-Nya tidak hanya menjelaskan tujuan yang seharusnya dicapai seorang muslim, tapi juga menjelaskan bagaimana tujuan itu dicapai.
- Jika memang tujuannya sama, lalu kenapa selalu terjadi konflik antar golongan yang ada? Coba kembali renungi empat kemungkinan tentang terjadinya kontradiksi ditulisanku yang sebelumnya. Bukankah konflik menunjukkan adanya perbedaan? Lalu bagaimana bisa dikatakan “Tujuan mereka sama”?
- Rosululloh hanya menjamin satu kelompok yang akan selamat, dan bukan semua kelompok.
Kemudian, bagaimana kita mengetahui yang mana yang sesuai sunnah, dan mana yang bukan? Di sinilah diperlukan sikap kritis untuk beragama, tidak sekedar ikut-ikutan. Jika untuk masalah dunia saja kita ga mau sekedar ikut-ikutan apalagi masalah agama, bukankah kita ini kaum akademik yang berbicara dengan data dan fakta, bukan sekedar perasaan dan katanya-katanya? Maka, belajarlah, datangi majelis ilmu di daerahmu. Ingat, majelis ilmu yang asli!! Bukan majelis ilmu palsu!! Wallohu a’lam.
[1] Hadits Hasan di dalam Mengapa Memilih Manhaj Salaf? karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Id al Hilali terbitan Pustaka Imam Bukhori, hal 54.
[2] Tambahan kalimat ini dari hadits Anas bin Malik, hadits hasan dengan syahid-syahidnya (di dalam Mengapa Memilih Manhaj Salaf? karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Id al Hilali terbitan Pustaka Imam Bukhori, hal 55).
[3] Muttafaqun ‘alaihi (di dalam Mengapa Memilih Manhaj Salaf? karya Syaikh Abu Usamah Salim bin “Id al Hilali terbitan Pustaka Imam Bukhori, hal 57).
[4] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud (4608), at Titmidzi (2676), dan ibnu Majah (44, 43) (di dalam Mengapa Memilih Manhaj Salaf? karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Id al Hilali terbitan Pustaka Imam Bukhori, hal 106).