Kepada Para Mahasiswa yang Merindukan Kejayaan

Akhi, ukhti, semoga Alloh Subhanahu wa ta’ala menerangi hatiku dan hati kalian dengan kebenaran dan kesabaran. Karena salah satu penyakit penuntut ilmu adalah tidak adanya kesabaran dalam belajar, ingin cepet-cepet menguasi banyak hal, dalam keadaan pondasi ilmu yang lemah. Yang paling tampak adalah tidak adanya skala prioritas dalam belajar, terutama bagi mahasiswa-mahasiswa (aku menulis “Mahasiswa” karena tulisan ini kubuat saat aku masih menjadi mahasiswa. Jika ingin diperluas, silahkan mengganti kata mahasiswa dengan kata pemuda). Kita disibukkan dengan urusan kuliah sehingga dalam menuntut ilmu syari kita serampangan, tidak bisa membedakan mana yang lebih penting dari yang penting, tanpa ada skala prioritas. Parahnya lagi, bagi mahasiswa seperti kita yang notabenenya adalah para pemuda dengan semangat membara yang begitu mudah disulut oleh isu-isu (terutama isu politik) maka jadilah semangat yang berkobar tanpa dukungan ilmu yang cukup. Rasa cemburu terhadap terhinanya Islam membuat sebagian besar orang-orang yang menginginkan kejayaan Islam (terutama mahasiswa aktivis Islam) menceburkan dirinya dalam kancah politik, dengan bekal ilmu yang minim. Dan bisa ditebak kan apa yang terjadi dengan usaha perbaikan tanpa tahu ilmu bagaimana cara memperbaikinya? Kerusakan yang timbul lebih besar dari kebaikan yang dihasilkan.

Inilah yang aku sayangkan banyak menimpa aktivis seperti kita. Sebagian kita meneriakkan “Tegakkan Syariat Islam” dalam keadaan kita sendiri melanggar syariat itu. Lihatlah bagaimana sebagian kita terus-menerus mencari dalih untuk menghalalkan demokrasi. Lihatlah pula bagaimana sebagian kita menceburkan diri ke dalam parlemen demokrasi (yang menuhankan suara mayoritas) yang berisi orang-orang yang bodoh terhadap syariat dengan alasan darurat. Lihat bagaimana mereka memajang foto-foto caleg di jalan-jalan, yang sebagiannya adalah wanita, yang sebagian mereka tabarruj dalam fotonya. Lihatlah bagaimana sebagian kita mengeluarkan wanita-wanita terhormat untuk berdemo di jalan, ditonton oleh begitu banyak lelaki dalam keadaan wanita itu diperintahkan untuk tinggal di rumah mereka. Lihatlah pula bagaimana dalam sebagian demo itu para wanita dan pria bercampur baur. Berteriak-teriak menegakkan syariat, maka syariat macam apakah yang ingin ditegakkan?

Itulah, itulah semangat para pemuda Islam yang tak terikat dengan ilmu. Tanyalah pada mereka, sudahkah mereka memahami Al Qur’an, sudahkan mereka memahami sunnah, sudahkan mereka memahami bagaimana politik Islam, ataukah selama ini mereka hanya terdoktrin oleh orang-orang yang memanfaatkan semangat mereka untuk tujuan kekuasaan??

Dan anehnya, di tengah usaha sebagian kita untuk menyuarakan syariat Islam, di tengah usaha mereka mengurus urusan orang lain, mereka melupakan sebagian urusan mereka sendiri. Aku tidak menolak adanya usaha dakwah, tapi dakwah dalam batas apa dan bagaimana yang bisa kita lakukan? Apakah kita cukup berilmu untuk berdakwah? Apalagi untuk urusan besar seperti urusan pemerintah. Bukankah orang yang tidak memiliki tidak bisa memberi? Tanyalah pada diri kita, apakah kita telah cukup baik mengurus diri sendiri sehingga merasa mampu mengurus orang lain? Bahkan negara? Bukankah orang yang tidak mampu mengangkat yang kecil tidak akan pernah mampu mengangkat yang besar?

Sudahlah, lebih baik sekarang kita menuntut ilmu dahulu, ibaratnya umat ini adalah radio rusak dan kita ingin memperbaikinya (dan Alhamdulillah ini adalah keinginan yang mulia, semoga Alloh menjaga kita di jalan dakwah ini) tentunya kita pelajari dulu bagaimana cara memperbaikinya, bukan langsung bongkar kemudian bingung gimana masangnya lagi. Demikian juga dalam dakwah ini, kita belajar dahulu, lalu mengamalkannya pada diri-diri kita, (seperti kata seorang “Jika engkau ingin mendirikan negara Islam, maka dirikanlah dulu Islam itu di hati-hati kalian”,) kemudian pada orang-orang terdekat dan seterusnya hingga umat ini membaik secara berlahan, sistematis, namun pasti. Jangan bernafsu ingin memperbaiki umat langsung secara keseluruhan melalui perebutan kekuasaan. Karena jalur kekuasaan politik demokrasi itu penuh dengan syubhat dan tipuan, bahkan sistemnya pun sistem kufur. Ukti, akhi, jikalah politik itu wajib, maka seorang Syaikh yang aku kenal mengatakan “Politik kita sekarang adalah dengan meninggalkan kancah politik”.

Demikianlah, semoga Alloh tetap mengokohkan langkah kita dalam dunia dakwah ini, dengan semangat yang terbungkus ilmu, wallohu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog yang laen:

kaptenbombay.wordpress.com salafyipb.wordpress.com waroengbombay.wordpress.com

Renungkan!!!

Wahai ikhwan abal-abal yang hobinya tebar-tebar pesona!! Apalah gunanya engkau dikenal oleh banyak akhwat di dunia bila tak satu pun bidadari surga yang sudi bahkan untuk sekedar melihat wajahmu?!

Maaf…

Pesan ini ditujukan kepada siapapun yang pernah berinteraksi dengan saya. Jika saya ada salah dalam bentuk apapun, maaf ya.. Dan jika ada praduga dan prasangka di hati anda, tak perlu sungkan untuk mengklarifikasikannya ke saya, ke didi_palaz@yahoo.com. Demikian juga bila ada kritik, saran, atau yang lainnya...
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.