Kontradiksi
15 Nov 2010 Leave a Comment
in Serius
Teman, semoga Alloh merahmati aku dan kalian, aku punya sebuah pertanyaan, mungkinkah dua buah hal yang kontradiksi bisa sama-sama benar? Tapi sebelum kalian menjawab, renungilah hal di bawah ini.
Menurutku, jika ada dua hal yang kontradiksi, maka setidaknya ada empat kemungkinannya:
- Kedua kontradiksi tersebut sebenarnya hanya seolah-olah kontradiksi, tapi jika diteliti lebih lanjut sebenarnya keduanya tidaklah kontradiksi, hanya saja kita yang belum tau bagaimana menggabungkan kedua hal yang tampaknya kontradiksi tersebut.
- Kedua-duanya memang kontradiksi, tapi kedua-duanya benar.
- Kedua-duanya memang kontradiksi, tapi kedua-duanya salah.
- Kedua-duanya memang kontradiksi, tapi yang satu benar, dan yang satunya salah.
Kemudian, jika hal ini sudah dipahami, marilah kita sedikit berpikir kritis, agak panas dan mungkin memancing emosi karena sedikit menggugat keyakinan kita, tapi yakinlah, aku hanya ingin bertanya, aku hanya ingin berbagi.
Tentang sebuah keyakinan, tentang sebuah jalan yang masing-masing kita telah memilih dan sedang menempuhnya, tentang sebuah prinsip hidup, dan tentang sebuah perjuangan dakwah di jalan Alloh ‘Azza wa Jalla. Mengapa masing-masing kita saling kontradiksi? Kontradiksi yang tidak hanya melahirkan perbedaan semata, tidak hanya perbedaan yang masih bisa ditoleransi, tapi juga menimbulkan perselisihan, perdebatan, pertikaian, permusuhan, saling caci, konflik fisik, dan tidak sedikit terjadi pertumpahan darah. Mengapa??
Jika kontradiksi yang terjadi adalah kemungkinan pertama, lalu mengapa sampai bertikai seperti ini? Jika kemungkinan yang kedua, itu mustahil, bagaimana dua hal yang benar-benar kontradiksi bisa sama-sama benar?? Jika kemungkinan ketiga, lalu di mana kebenaran itu??? Jika kemungkinan keempat, siapa yang benar, dan apakah kita ada di pihak yang benar itu????
Bukankah Robb yang kita sembah satu? Bukankah Al Qur’an yang kita baca satu? Bukankah kiblat kita satu? Bukankah Nabi kita pun satu? Tapi, kenapa kita saling kontadiksi?
Renungilah jalan yang kita tempuh, jalan yang telah kita pilih, yakinkah kita memilih jalan yang benar? Apakah kita hanya akan berkata “Ya benar”, tanpa memiliki bukti yang menguatkan kita dan melemahkan orang yang menyelisihi kita? Bukti yang kita yakini akan menjadi hujjah bagi kita di hadapan-Nya kelak? Apakah bukti itu dibangun di atas dasar perkataan Alloh dan perkataan Rosululloh? Atau bukti yang dibangun di atas sikap “ikut-ikutan”?
Teman, dulu pernah ada seorang penyair yang pernah berkata seperti ini, renungilah:
Semua orang mengaku memiliki hubungan dengan laila
Tetapi laila tidak mengakui pengakuan mereka
Itulah sebuah pengakuan, bisa benar, tapi bisa juga hanya omong kosong belaka. Benarkah jalan dakwah yang kita tempuh adalah atas dasar kecintaan kita pada Alloh? Jika iya, maka cocokkanlah dengan firman Alloh ini yang artinya:
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku (Rosululloh), niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron [3]: 31)
Pertanyaannya, cocokkah? Sudahkah kita mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam perjuangan dakwah kita? Jika sudah, lalu bagaimana dengan kondisi kontradiksi yang menyelimuti dakwah Islam, apakah kita di jalan yang benar dari jalan-jalan dakwah yang saling kontradiksi itu? Apa buktinya?
Kemudian, sebagian pihak mencoba mencari jalan tengah dengan mengatakan “Sudah lah, kita tidak usah saling menyalahkan, yang penting kan tujuannya sama” atau “Sudahlah, yang penting kan niat nya baik” atau “Masa kita masih ngurus hal seperti ini, padahal musuh kita semakin gencar melakukan kristinisasi” atau alasan lainnya yang menurutku alasan-alasan ini hanya sekedar dilontarkan untuk menutupi kelemaham dirinya atau hanya untuk dijadikan tameng dari koreksi dan kritik dari pihak lain terhadap dirinya.
Selain itu, ada juga yang berkata “Jangan memecah belah barisan dari dalam”, atau “Jangan membangkitkan perselisihan di antara kaum muslimin” atau pernyataan lainnya yang menurutku dilontarkan oleh orang-orang yang tidak mengerti hakikat persatuan yang dikendaki oleh Alloh.
Inilah konsekuensi sebuah keyakinan, yaitu kita membangun keyakinan kita di atas bukti berupa perkataan Alloh dan perkataan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam, bukan keyakinan yang dibangun di atas fanatisme golongan yang terkesan hanya bermodal semangat dan perkataan “Pokonya begini, pokoknya begitu”.
Teman, renungilah, dari keempat kemungkian kontariksi di atas, manakah yang terjadi di antara dakwah-dakwah yang ada di sekitar kita, lalu di mana posisi kita, dan apa buktinya? Jawablah. Ketahuilah, bahwa yang paling membutuhkan jawaban atas pertanyaan ini adalah jiwa-jiwa kita sendiri, maka jawablah dengan jujur dari nurani kalian yang paling dalam, jangan menipu diri sendiri. Jawablah pada diri kita, apakah kita telah paham akan jalan yang kita tempuh, atau hanya sekedar ikut-ikutan?
Dan, jika kemudian jawaban menyatakan bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan kebenaran, maka teruslah menempuhnya sesusah apapun jalan itu, karena kesudahan yang baik lah bagi orang-orang yang berpegang pada kebenaran. Tapi, jika kemudian jawaban menyatakan bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang menyimpang, maka cepet-cepatlah kembali pada jalan yang lurus, karena sungguh celaka orang yang telah mengetahui bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang salah, tetapi terus menempuhnya, apapun alasannya. Dan karena kembali kepada kebenaran itu jauh lebih mudah daripada terus-menerus bertahan dalam kesalahan..
Semoga Alloh menunjukkan kepada kita bahwa yang benar adalah benar dan menguatkan kita untuk mengerjakannya. Serta menunjukkan kepada kita bahwa yang salah adalah salah dan menguatkan kita untuk meninggalkannya. Semoga Alloh merahmati orang-orang yang mau bersusah payah mencari kebenaran dan mengikutinya, dengan bukti, wallohu a’lam..