Risalah pernikahan

Akhi, ukhti, ini hanyalah sebuah tulisan ringan, sebagai bahan renungan tentang makna sebuah pernikahan. Jika kemudian ternyata apa yang aku tulis ini adalah sebuah kesalahan, maka buanglah, tak perlu kalian hiraukan, namun jika yang aku tulis ini memberi manfaat pada kalian, maka segala puji hanya bagi Alloh Robb semesta alam.

Ahki, ukhti, aku ingin membangun tulisan ini dengan sebuah perumpamaan, yaitu perumpamaan yang menggambarkan rumah tangga sebagai sebuah kapal yang berlayar mengarungi samudera kehidupan, menuju sebuah pulau idaman setiap muslim, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan inilah perumpamaan-perumpamaan itu.

Pertama, hal paling dasar yang perlu kalian miliki dalam membangun kapal ini adalah ilmu. Bagaimana mungkin seseorang mampu membangun kapal padahal dirinya tidak memiliki ilmu? Tentu kita tidak ingin seperti yang disebutkan dalam sebuah syair,

Engkau menginginkan sesuatu tapi tak menempuh caranya

Lantas bagaimana mungkin kapal bisa berlayar di gurun sahara

Namun, karena aku yakin kalian telah mempersiapkan ilmu yang banyak dalam melakukan pernikahan ini, juga karena sepertinya telah ada sahabat-sahabat kalian yang menjadikan buku panduan nikah sebagai kado bagi kalian, atau bahkan kalian sudah membaca buku-buku itu –semoga-, maka aku tidak akan berpanjang lebar dalam masalah ini. Hanya saja aku ingin mengingatkan tentang sebuah hadits akan pentingnya ilmu, yang dengan ilmu itu kita akan memiliki pemahaman yang benar dalam menjalankan seluruh hidup ini dengan segala macam aspeknya. Maka renungkanlah hadits di bawah ini,

“Barangsiapa yang diinginkan oleh Alloh kebaikan pada dirinya, maka dia akan  dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhori dan Muslim (di dalam 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara, karya Abu Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu Abdillah, eLBA, hal. 51))

Maka, pegang teguhlah hadits ini dalam setiap aspek kehidupan kita, semoga kita dikokohkan untuk berjalan di atas manhaj ini..

Kedua, sesungguhnya wajib bagi kalian membangun pondasi kapal kalian dengan kokoh, dan pondasi paling kokoh yang pernah ada di dunia ini adalah tauhid yang murni kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala, diiringi ittiba’ kepada Rosul-Nya Sholallohu ‘alaihi wa sallam, yang keduanya dipraktekkan dengan sebaik-baik pemahamanan, yaitu pemahamanan para Sahabat Rodhiallohu’anhum. Dengan pondasi inilah kapal kalian akan menjadi kapal yang sangat kokoh, yang siap mengarungi luasnya samudera kehidupan yang penuh badai dan gelombang fitnah. Alloh Azza wa Jalla berfirman yang artinya,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh [2]: 155)

Inilah salah satu ayat di antara sekian banyak ayat yang menyatakan bahwa dunia ini adalah tempat ujian, maka tempuhlah ujian ini dengan ilmu dan sabar. Semoga Alloh menjaga rumah tangga kalian, menguatkannya, dan menolong kalian dalam mengarungi bahtera rumah tangga itu di dalam lautan kehidupan ini. Saling mengokohkanlah kalian berdua..

Ketiga, sesungguhnya kalian butuh perbekalan untuk berlayar di lautan, maka berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqoroh [2]: 197)

Namun, apakah yang dimaksud dengan taqwa?

Salah satu definisi taqwa adalah, “Engkau menjalankan amal-amal ketaatan kepada Alloh, dengan bimbingan ilmu dari Alloh, karena mengharapkan ganjaran dari Alloh. Dan engkau meninggalkan larangan Alloh, dengan bimbingan ilmu dari Alloh, karena takut dengan adzab-Nya yang sangat pedih.”

Definisi ini menunjukkan bahwa dalam mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, kita harus mendasarinya di atas ilmu, sehingga kita benar-benar mengerjakan perintah yang memang diperintahkan dan menjauhi larangan yang memang dilarang, bukan mengerjakan sesuatu yang kita sangka merupakan perintah padahal tidak diperintahkan, bukan pula menjauhi sesuatu yang kita sangka larangan padahal bukan larangan.

Definisi lain dari taqwa adalah, “Seorang hamba membuat benteng untuk dirinya dari siksaan dan murka Alloh Azza wa Jalla.”

Lantas apa bentengnya? Serupa dengan definisi sebelumnya, benteng itu adalah amal-amal sholeh berupa mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yang didasari petunjuk.

Dari definisi taqwa inilah terlihat betapa pentingnya menuntut ilmu, sehingga kita mendapat petunjuk untuk beramal dengan benar, apalagi di tengah banyaknya paham-paham yang banyak bermunculan dewasa ini. Tanpa ilmu seseorang akan kebingungan untuk beramal, sementara orang yang berilmu akan mudah untuk beramal, karena dengan ilmunya dia bisa melihat mana yang merupakan amal sholeh dan mana yang bukan. Maka tidak heran jika dikatakan, “Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga.” Semoga Alloh Azza wa Jalla senantiasa memberi kemudahan kepada kita untuk mendalami agama ini, aamiin.

Maka berbekallah wahai dua pengantin, berbekallah dengan ilmu, amal, dan sabar dalam menjalankan rumah tangga kalian, semoga Alloh menjaga kalian.

Kemudian, juga bekal untuk hidup kalian, maka terutama bagi suami sebagai kepala rumah tangga, carilah rezeki dengan cara yang benar, dengan cara yang halal. Maka berhati-hatilah dalam bermuamalah, apalagi di tengah merebaknya praktek muamalah yang banyak menyimpang dari syari’at dewasa ini, terutama masalah riba. Berusahalah dengan sungguh-sungguh memberikan nafkah yang halal bagi keluargamu. Jangan engkau kenyangkan istri dan anakmu dengan harta yang haram, karena sungguh tubuh yang tumbuh dari harta yang haram maka neraka lah yang lebih berhak atasnya. Maka seringlah engkau mengingatkan suamimu wahai istri,

Kami bisa sabar terhadap lapar dan dahaga

Tapi kami tak akan sabar dengan siksa neraka

Dan, cukuplah hadits di bawah ini sebagai renungan akan pentingnya mencari rezeki yang halal.

“Dari Abu Huroiroh Rodhiallohu’anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Alloh itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para Rosul, maka Alloh telah berfirman: “Wahai para Rosul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal sholih.” Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Robb, Wahai Robb”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya.” (HR. Muslim, termuat di dalam Arba’in An Nawawiyah, hadits no. 10)

Sementara pesanku bagimu wahai suami, bertaqwalah dalam mencari rezeki, niscaya Alloh akan berikan pertolongan padamu. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At Thalaq [65]: 2-3)

Namun, ingatlah juga bahwa harta adalah fitnah, maka berhati-hatilah, jangan sampai harta benda yang fana itu melalaikan kalian dari tujuan hakiki hidup ini, maka gunakanlah harta kalian dalam kebaikan, dan jangan jadikan dia tujuan hidup. Semoga Alloh menjaga kalian ditengah badai materialisme yang semakin lama semakin besar.

Keempat, sesungguhnya setiap kapal memerlukan seorang kapten yang bijak, tangkas, cekatan, disiplin, dan tegas. Namun kapten tidak bisa melakukan semua tugas di kapal seorang diri, dia butuh pendamping. Maka sesungguhnya perumpamaan kalian berdua adalah bagaikan matahari dan bulan yang saling mengiringi. Bagimu wahai suami, sebagaimana matahari menyinari bumi ini, maka sinarilah rumah tanggamu dengan memberikan pendidikan agama yang benar kepada mereka. Jika engkau mampu, maka jadilah engkau matahari yang tidak hanya menyinari kapalmu sendiri, akan tetapi lihatlah di luar sana, orang-orang yang perlu engkau tolong, baik secara materi, terlebih masalah pendidikan agama (yaitu dengan mendakwahi mereka semampu kita), dimana engkau lihat masyarakat kita sekarang telah banyak yang tidak mengenal agamanya, maka berusahalah mendakwahi mereka.

Akhi, sebagaimana engkau senang bila diberi petunjuk, maka berilah petunjuk kepada orang lain. Inilah hadits Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam berbicara di tengah kita, tentang bagaimana hendaknya kita bermuamalah dengan sesama muslim, beliau Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Rhodiallohu‘anhu –pelayan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam-, dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidaklah sempurna keimanan seseorang di antara kamu sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, termuat dalam Arba’in An Nawawiyah hadits no. 13)

Dan orang yang paling berhak untuk engkau dakwahi adalah dirimu sendiri dahulu, baru keluargamu, orang tuamu, kemudian orang lain..

Dan untukmu wahai istri, jadilah engkau rembulan yang senantiasa setia mendampingi matahari, dalam susah maupun senang, dalam sempit maupun lapang, taatilah dia dalam kebaikan, niscaya surga akan menantimu, insya Alloh. Juga jadilah engkau rembulan yang memantulkan cerahnya sinar mentari, maka bantulah dakwah suamimu. Bukankah di luar sana begitu banyak saudari-saudarimu yang tidak mengenal agama dengan baik? Maka bagilah indahnya cahaya rembulan itu kepada mereka, semoga Alloh memudahkan urusan kalian.

Kemudian, pesanku pada kalian, bagi suami, ingatlah bahwa istrimu terbuat dari tulang rusuk, dan diumpamakan sebagai gelas-gelas kaca, maka berhati-hatilah, luruskan kebengkokannya dengan lemah lembut, jangan sampai engkau memecahkannya, jangan sampai engkau meretakkannya, dan jangan sampai engkau menghancurkannya. Bila engkau mendapatkan sesuatu yang tak kau sukai dari istrimu, maka bersabarlah, karena tentu di sisi lain ada sesuatu yang engkau sukai pada istrimu. Maka ketahuilah bahwa istrimu bukanlah malaikat, tak mungkin kau dapatkan dia tak pernah berbuat salah sebagaimana seorang penyair berkata,

Engkau menginginkan teman yang tidak memiliki cacat

Maka bagaimana mungkin gaharu mengeluarkan wangi tanpa asap

Maka jika dia bersalah bersabarlah engkau untuk menasihatinya saudaraku..

Dan bagimu wahai istri, ketahuilah bahwa pria sangat pencemburu, maka jangan sekali-kali engkau kobarkan api cemburunya, yang itu dapat menghanguskan kapal kalian. Ingatlah wahai istri, bahwa tidak mungkin ada dua kapten dalam satu kapal, demikian pula tidak mungkin ada dua pria dalam hatimu, maka jadilah engkau istri yang setia, baik dihadapannya, terlebih lagi ketika tidak berada dihadapannya, semoga Alloh menjaga kalian.

Kemudian, aku teringat nasihat temanku, bila salah satu dari suami istri marah, maka janganlah yang lain ikut marah, akan tetapi tenangkanlah. Maka saling tolong-menolonglah kalian dalam kapal kalian, jaga hubungan baik antara kapten dan awak kapal..

Kelima, seiring berjalannya waktu, insya Alloh penumpang di kapal kalian akan bertambah, merekalah anak-anak kalian, amanat yang perlu kalian jaga dan didik dengan ilmu. Sesungguhnya pembahasan tentang ini sangat berat bagiku, maka aku rasa tak tersembunyi bagi kalian buku-buku yang membahas tentang itu, maka belilah, lalu pelajarilah, persiapkan diri kalian jauh-jauh hari dalam menerima amanat besar ini. Amanat yang jika kalian terima dengan benar, maka akan memudahkan langkah kalian ke surga. Sebaliknya, jika kalian tidak mengurusnya dengan benar, amanat ini justru dapat menyeret kalian ke neraka. Semoga Alloh memudahkan urusan kalian. Di sini aku ingin mengingatkan dua hal. Pertama, bersungguh-sungguhlah kalian mendidik anak-anak kalian, terutama di masa kecil mereka. Sebagaimana pepatah mengatakan, mendidik anak di masa kecil bagaikan mengukir di atas batu. Kedua, ingatlah bahwa anak-anak itu pun termasuk ujian bagi kalian, maka berhati-hatilah, semoga Alloh memudahkan urusan kalian, dan menjadikan anak kalian kelak (insya Alloh) menjadi anak yang berguna bagi agama, orang tua, dan kaum muslimin umumnya, dan menjadikannya pemberat timbangan di hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat.

Dan ketahuilah, anak-anak itu pun kelak akan besar dan membangun kapalnya masing-masing, maka bantulah mereka, didiklah mereka bagaimana membangun kapal yang baik, sehingga bertambahlah armada demi aramada kaum muslimin di dalam kehidupan ini..

Dan sebagai kapal induk yang baik, jangan lupa persiapkan pula sekoci (kapal penyelamat) yang mencukupi dalam kapal kalian untuk menampung seluruh awak kapal bila mana suatu saat (semoga tidak) kapal kalian mengalami kecelakaan. Eh, tapi aku bingung membuat perumpamaan untuk sekoci ini, apa ya? Hmm, tak tau lah, pr aja buat kalian untuk memikirkannya.. Mungkin dengan menjaga hubungan baik dengan sanak kerabat sehingga bila kalian mendapat musibah akan ada yang membantu kalian..

Keenam, sesungguhnya banyak kapal di laut, ada yang baik, dan ada yang buruk, maka kibarkanlah bentera tauhid dan sunnah sebagai identitas kalian, dan saling tolong-menolonglah dengan kapal-kapal kaum muslimin lainnya, menuju kesatuan dan persatuan kaum muslimin di tengah badai syubhat dan syahwat. Dan berhati-hatilah dengan kapal-kapal yang jahat yang mengibarkan bendera kesyirikan, bendera kemaksiatan, dan bendera bid’ah. Merekalah para bajak laut yang menjadi musuh bagi setiap pelaut, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka. Semoga Alloh menjaga rumah tangga kalian dari tiga kapal buruk itu, anggaplah mereka para bajak laut yang harus dilawan, maka bersatulah dengan jama’ah kaum muslimin melawan mereka di atas ilmu dan petunjuk, serta berpegang teguhlah kalian semua pada sunnah, cukuplah hadits di bawah ini menjadi renungan bagi kalian, semoga Alloh menjaga kalian ditengah badai perselisihan dan perpecahan yang menimpa kaum muslimin dewasa ini.

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Alloh, patuh dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak habasyi. Sesungguhnya siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ Rosyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah pada sunnah itu dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Waspadalah, jangan sekali-kali mengadakan perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud (4608), at Titmidzi (2676), dan ibnu Majah (44, 43) (di dalam Mengapa Memilih Manhaj Salaf? karya Syaikh Abu Usamah Salim bin “Id al Hilali terbitan Pustaka Imam Bukhori, hal 106)

Ketujuh, mungkin ada saatnya kapal kalian usang atau rusak yang membutuhkan perbaikan, atau mungkin salah satu dari kalian terhempas ombak hingga tercebur ke laut, maka pasangannya hendaknya menolongnya. Ada kalanya musibah datang menyapa, ada kalanya manusia menjadi lemah dan kehilangan semangat, begitulah roda kehidupan, maka pasangannya hendaknya bersikap bijak dalam menghadapinya. Semangatilah dia, beri dia motivasi, ingatkan dia tentang keikhlasan dalam menjalankan hidup ini, jangan justru berkeluh kesah di hadapannya yang justru akan menambah berat beban pasanganmu. Jangan dikira datangnya musibah itu buruk, karena boleh jadi saat kalian terhempas ke dalamnya lautan, kalian mendapatkan mutiara di bawah sana. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh [2]: 216)

Bahkan, aku rasa tidak tersembunyi dari kalian sebuah hadits tentang mengagumkannya urusan seorang mukmin, apabila diberi kebaikan dia bersyukur, dan apabila diberi cobaan dia bersabar, dan keduanya baik bagi dirinya.

Kemudian, mungkin juga kapal kalian akan mengalami upgrade dengan semakin bertambahnya jumlah penumpang. Maka ketahuilah, sebagaimana rumah yang kuat mesti dibangun  di atas pondasi yang kuat sehingga saat rumah itu di upgrade maka pondasi itu masih kuat menopangnya, maka kapal yang kuat pun perlu kepada lunas (yaitu tulang punggung kapal) yang kuat sehingga saat kapal kalian di upgrade pun lunas itu akan tetap kokoh menopang kapal. Maka sekali lagi, terus, dan teruslah kuatkan pondasi itu, yaitu tauhid kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala di atas petunjuk Rosululloh Sholallohu ‘alahi wa sallam yang dipahami dengan pemahaman Sahabat Rodhiallohu’anhum. Semoga Alloh menjaga bahtera rumah tangga kalian, dan menjadikannya salah satu bahtera yang berguna bagi kaum muslimin, aamiin.

Kedelapan, inilah perumpamaan bagian terakhir yang bisa kusampaikan. Akhi, ukhti, tak jarang seorang kapten atau awak kapal berpindah ke kapal yang lain (i), atau seorang kapten memiliki awak kapal baru (ii), atau seorang kapten atau awak kapal meninggalkan kapalnya (iii).

Yang pertama, itulah perceraian. Maka jika ini terjadi, bersabarlah, sesungguhnya tak selamanya rumah tangga yang terbentuk itu akan bertahan, dan Alloh pun menghalalkan cerai dalam syari’at kita. Sesungguhnya setiap manusia adalah karakter yang unik sehingga terkadang sulit disatukan. Hanya saja pesanku, janganlah perceraian itu menimbulkan kebencian di antara kalian, apalagi permusuhan, apalagi bila melibatkan keluarga masing-masing. Maka bagimu wahai suami, bila engkau ingin mempertahankan istrimu, maka pertahankanlah ia dengan baik, dan bila engkau ingin melepaskannya, maka lepaskanlah ia dengan baik, dan janganlah kau abaikan hak-hak yang mesti engkau tunaikan kepadanya dan kepada anaknya bila ternyata itu terjadi ketika kalian telah memiliki anak. Dan bagimu wahai istri, pun bersabarlah menghadapi hal ini bila terjadi…

Yang kedua, khusus bagimu wahai istri, inilah poligami. Aku tau ini begitu berat untukmu. Aku pernah iseng (hehe) melakukan survey ke para wanita, dan sedikit sekali dari mereka yang mau dipologami. Akan tetapi, aku yakin engkau adalah akhwat sholihah yang tak akan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh bagi suamimu, maka bila ini terjadi, bersabarlah engkau. Dan bagimu wahai suami, adillah bila engkau berpoligami, jangan engkau lebihkan seorang istri sementara engkau biarkan istrimu yang lain terkatung-katung! Jangan!! Sekali lagi jangan!!! Karena telah sampai kepadaku ancaman yang berat terhadap suami seperti ini..

Yang ketiga, inilah kematian. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron [3]: 185)

Tak perlu aku berpanjang lebar menjelaskannya, aku tahu kalian paham dengan ayat ini. Maka pesanku, jika ini terjadi, bersabarlah, bersabarlah, dan kuatkan kesabaran, semoga Alloh menjaga diri-diri kalian…

Yah, inilah sederet perumpamaan yang bisa aku berikan pada kalian, semoga bermanfaat bagi kalian, dan menambah kebahagian di hari yang penuh kebahagian pada kalian wahai dua pengantin yang semoga senantiasa di jaga oleh Alloh Azza wa Jalla.

Maka, dengan kebersamaan, mulailah kalian mendayung kapal kalian, dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan doaku untuk kalian adalah,

Barokallohu laka, wa baroka ‘alaika, wa jama-a bainakuma fi khoir

“Semoga Alloh memberkahimu, dan memberkahi atasmu, serta menyatukan kalian dalam kebajikan.” (HR. Ashabus Sunan kecuali Nasa’I, Shohih Tirmidzi 1/316 (di dalam Hisnul Muslim, Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qohthoni Hafizhohulloh)

Bersemangatlah atas apa-apa yang bermanfaat bagi kalian, mintalah pertolongan kepada Alloh, dan jangan kalian merasa lemah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Jaga kerukunan, selesaikan setiap masalah dengan kepala dingin, jangan biarkan amarah memporak-porandakan bahtera kalian. Sekali lagi, bila salah seorang dari kalian sedang emosi, maka hendaknya pasangannya yang mendinginkan, bukan justru ikut emosi sehingga terjadilah apa yang setan akan tertawa melihatnya. Selamat mendayung wahai dua pengantin yang semoga Alloh menjaga diri-diri kalian. Doakan agar aku juga segera mendayung kapalku. Dan semoga kelak kita bertemu di tempat tujuan setiap muslim, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, aamiin.

Maaf bila ada yang tidak berkenan dari tulisanku ini, atau kesalahan dalam penulisan.

Wallohu a’lam

Alhamdulillah

Allohuma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad

4 Comments (+add yours?)

  1. hanhan
    Sep 04, 2011 @ 15:06:58

    subhanallah tulisan yang sarat ilmu dan mencerahkan….syukron ya…semoga Allah balas pahala yang mengalir bagi penulisnya….

    Reply

  2. rimbawanmuslim
    Feb 10, 2012 @ 12:21:41

    Tertulis: “Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qohthoni Rohimahulloh”

    Sependek pengetahuan saya, beliau -hafizhahullaah- masih aktif dalam mengajar di berbagai majelis ta’lim di Madinah. Jadi, rasanya kurang pantas menyematkan lafazh -rahimahullaah- yang biasanya diperuntukkan bagi mereka-mereka yang telah wafat. Adapun Syaikh DR. Sa’id bin Musfir al-Qahthani, penulis Buku Putih Syaikh Jaelani”, maka beliau telah wafat sekitar 10 tahun yang lalu, rahimahullaah.

    Btw, tulisannya sangat menggugah, rapi, dan menarik. Barakallaahu fiik…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog yang laen:

kaptenbombay.wordpress.com salafyipb.wordpress.com waroengbombay.wordpress.com

Renungkan!!!

Wahai ikhwan abal-abal yang hobinya tebar-tebar pesona!! Apalah gunanya engkau dikenal oleh banyak akhwat di dunia bila tak satu pun bidadari surga yang sudi bahkan untuk sekedar melihat wajahmu?!

Maaf…

Pesan ini ditujukan kepada siapapun yang pernah berinteraksi dengan saya. Jika saya ada salah dalam bentuk apapun, maaf ya.. Dan jika ada praduga dan prasangka di hati anda, tak perlu sungkan untuk mengklarifikasikannya ke saya, ke didi_palaz@yahoo.com. Demikian juga bila ada kritik, saran, atau yang lainnya...
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.