Kutitip surat ini untukmu..

Wahai anakku…

Kutulis risalah ini…

Dari tangan seorang ibu yang merana…

Yang ditulisnya dengan rasa malu…

Dalam kegelisahan dan lamanya penantian…

Lama dipegangnya pena ini…

Hingga berlinang air matanya…

Wahai anakku…

Telah senja kini usia Ibu dan aku melihat dirimu telah beranjak dewasa…

Telah sempurna akal dan telah matang fikiranmu…

Annakku, di antara hak ibu, sudi kiranya engkau membaca suratku ini, namun bila engkau enggan wahai anakku, robeklah suratku ini sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu mu ini…

Wahai anakku…

15 tahun yang silam kebanggaan paling besar kurasakan dalam hidup ku…

Tatkala dokter mengabarkan kehamilan ku…

Dan setiap ibu, wahai anakku, sungguh telah mengetahui makna kalimat ini dengan baik.

Sungguh itu merupakan kebahagian dan kegembiraan…

Dan mulainya awal kepayahan dan perubahan dalam tubuhku…

Setelah berita kegembiraan ini, ibu mengandungmu selama 9 bulan dengan penuh kebahagiaan, aku bangkit, tidur, dan makan dengan penuh kesulitan, dan aku pun bernafas dengan kepayahan…

Namun, semua kesulitan dan kepayahan ini tidak mengurangi sedikitpun rasa cintaku pada mu…dan sayang ku pada mu…

Bahkan cinta kasih ku semakin bertambah pada mu, dengan berjalannya waktu kian bertambah rasa rindu ku menanti kehadiran mu…

Aku mengandung mu, anakku, dengan penuh kepayahan…dan rasa sakit yang tidak terkira…

Betapa gembiranya diriku tatkala kurasakan gerakan mu…

Dan bertambah pula kebahagian ku tatkala kurasakan bertambahnya berat tubuh mu yang tentunya membuat berat bagi diri ku…

Sungguh inilah kepayahan yang panjang kurasakan…

Datang malam-malam di mana aku tak dapat tertidur, dan kedua mataku pun tak bisa dipejamkan…

Anakku, kurasakan rasa sakit, kegelisahan, dan rasa takut yang mencekam, yang tidak bisa ku ungkapkan dengan pena ini…dan kukatakan dengan ungkapan lisan…

Hingga aku melihat dengan kedua mataku seakan-akan kematian akan menjemput diriku sampai akhirnya…kamu terlahir ke dunia…

Air mata kepedihan ku terpancar bersamaan dengan jerit tangis mu…hilanglah semua rasa sakit dan kepedihan…

Wahai anakku…

Telah berlalu masa-masa di mana aku meninabobokan mu di dada ku…

Dan aku mandikan diri mu dengan kedua tangan ku…

Kujadikan pangkuan ku sebagai ranjang bagi mu dan susuan ku sebagai makanan untuk mu…

Aku terjaga sepanjang malam agar kamu dapat tertidur pulas…

Dan aku berlelah diri di siang hari untuk kebahagian diri mu…

Kebahagian ku…tatkala kamu meminta sesuatu pada ibu dan segera ku penuhi pintamu…

Itulah puncak tertinggi kebahagian ku…

Telah lewat malam-malam dan telah berlalu hari demi hari…

Demikian kulakukan semua itu untuk kebahagianmu, melayani mu sepenuhnya dan tidak melalaikan mu, menyusui mu tiada henti-hentinya dan merawat mu tanpa ada rasa kebosanan hingga bertambah besar tubuh mu…

Tibalah masa keremajaan mu, dan tanda-tanda kedewasaan mu pun telah tampak pada diri mu…

Hingga ibu mencarikan untuk mu seorang wanita yang kamu inginkan untuk kau nikahi…

Dan tibalah waktu pernikahan mu yang membuat sedih hati ku…

Berlinang air mataku karena kebahagian dengan lembaran hidup baru mu…bercampur duka yang dalam karena akan berpisah dengan mu…

Kemudian tibalah masa-masa yang amat berat bagi diri ku…

Di mana kurasakan diri mu kini bukanlah buah hati yang dahulu ku kenal!

Sungguh engkau telah mengingkari diri ku, melupakan hak-hak ku!

Hari terus berlalu dan tidak pernah lagi kulihat diri mu, tidak pernah kudengarkan lembut suara mu, apakah kamu lupa kepada ku, seorang wanita yang telah memelihara mu dengan penuh rasa cinta…!

Wahai anakku…

Aku tidak menuntut apa-apa dari mu…

Jadikanlah diri ku layaknya sahabat yang kamu miliki…

Jadikanlah diri ku, wahai buah hatiku, salah satu tempat persinggahan mu yang senantiasa kamu kunjungi setiap bulan walau hanya sesaat…

Wahai anakku…

Gemetar seluruh tubuh ku, lemah kurasakan badan ku, karena sakit yang aku derita, berbagai penyakit silih berganti mampir pada diri ku…

Aku tidak mampu berdiri melainkan dengan kesulitan dan aku tidak mampu untuk duduk melainkan dengan kepayahan dan senantiasa hati ini dipenuhi dengan rasa rindu akan cinta dan sayang mu…

Apabila suatu saat ada orang yang memuliakan diri mu, niscaya kamu akan memujinya karena perlakuannya terhadap diri mu, dan kebaikan sikapnya pada diri mu…

Dan ibu mu ini wahai anakku, lebih banyak berbuat kebaikan pada diri mu dan berlaku ma’ruf pada mu hingga tidak dapat dibalas denga apa pun jua…!

Ibu telah merawat mu, melayani semua kebutuhan mu, bertahun-tahun lamanya…

Manakah balasan mu…?

Apakah setelah semua ini…hati mu menjadi keras?

Dan berlalunya waktu kian membuat diri mu jauh dari ku…!

Wahai anakku…

Acap kali aku mengetahui kamu bahagia dalam hidup mu, bertambah pula kebahagian dan kegembiraan ku, namun betapa herannya ibu pada diri mu anakku…yang telah kubesarkan dengan belaian kedua tanganku…

Dosa apakah yang telah ku perbuat hingga aku menjadi musuh bagi mu…?

Engkau tidak mau menjengukku, beratkah langkah kaki mu untuk mengunjungi ku…?

Apakah aku melakukan suatu kesalahan pada diri mu?

Ataukah aku telah melakukan kelalalian dalam melayani mu…??

Jadikanlah diri ku layaknya pelayan-pelayan mu yang engkau berikan upah kepada mereka…!

Berikanlah aku sedikit saja dari rasa belas kasih dan sayang mu…

Berbuat baiklah pada diri ku wahai anakku…

Karena sesungguhnya Alloh akan memberikan balasan kebaikan orang yang berbuat baik…

Wahai anakku…

Tidak ada yang ku inginkan di dunia ini selain melihat wajah mu…

Tidak ada yang kuinginkan selain itu, biarkan lah aku menatap wajah mu, meredakan amarah mu…

Wahai anakku…

Bergetar keras degub jantungku, berlinang deras air mata ku…melihat diri mu hidup bahagia tercukupi.

Senantiasa manusia memperbincangkan akan kebaikan mu, kedermawanan dan kemuliaan mu…

Wahai anakku…

Apakah kiranya hati mu masih memiliki seberkas rasa belas kasih terhadap seorang wanita yang renta dan lemah ini…?

Yang hatinya diliputi dengan kerinduan dan diselimuti dengan kesedihan…

Kamu telah membuat duka hatinya, membuat air matanya berlinang, hancur hatinya, dan terputusnya hubungan…

Aku tidak akan mengadukan kepedihan ini, dan belum terhapus kedukaan ini, karena bila naik menembus awan-awan dan mengetuk pintu-pintu langit, niscaya bala akan datang pada mu, berbagai keburukan menghampiri mu, dan musibah besar akan menimpa mu…

Tidak…!

Tidak akan mungkin aku lakukan hal tersebut.

Wahai anakku, kamu akan senantiasa menjadi buah hati ku, penyejuk pandangan ku, dan kebahagian dunia ku…

Sadarilah anakku…

Rambut putih mu mulai tampak, telah berlalu waktu, dan masa yang panjang menjadikan dirimu mulai menua.

Anakku…bukankah balasan itu sesuai dengan perbuatan…!

Niscaya kamu akan menulis surat ini kepada anak mu dengan linangan air mata sebagaimana aku menulis surat ini untuk mu…

Wahai anakku…

Takutlah kepada Alloh…

Hentikanlah tangisnya…

Hapuslah kedukaannya…

Setelah itu jika kau inginkan, sobeklah suratnya…

Dan ketahuilah anakku, barangsiapa yang mengamalkan kebaikan maka kebaikan itu untuknya, dan barangsiapa yang berbuat keburukan maka keburukan itu akan kembali padanya…

(Dari VCD Kutitip surat ini untukmu, terbitan Radio Rodja (www.radiorodja.com) oleh Ustadz Armen Halim Naro Rohimahulloh, dengan perubahan)

One Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Jawaban sang anak.. « My Brain, 1987

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog yang laen:

kaptenbombay.wordpress.com salafyipb.wordpress.com waroengbombay.wordpress.com

Renungkan!!!

Wahai ikhwan abal-abal yang hobinya tebar-tebar pesona!! Apalah gunanya engkau dikenal oleh banyak akhwat di dunia bila tak satu pun bidadari surga yang sudi bahkan untuk sekedar melihat wajahmu?!

Maaf…

Pesan ini ditujukan kepada siapapun yang pernah berinteraksi dengan saya. Jika saya ada salah dalam bentuk apapun, maaf ya.. Dan jika ada praduga dan prasangka di hati anda, tak perlu sungkan untuk mengklarifikasikannya ke saya, ke didi_palaz@yahoo.com. Demikian juga bila ada kritik, saran, atau yang lainnya...
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.