Syahwat setelah syubhat
18 Apr 2011 1 Comment
in Nyantai
Lanjutan dari sepenggal kisah sebelumnya..
Sang musafir kembali berjalan, dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya, karena dengan ketiga matanya kali ini dia bisa melihat jalan dengan jelas, alhamdulillah. Juga dengan hasil berlatihnya selama di dasar jurang membuatnya lebih kuat memegang ketiga pedangnya…
Dia terus berjalan, hingga sayup-sayup terdengar suara deburan ombak lautan. Laut? Saatnya berlayar, dengan kapal yang sangat sederhana, dan berbekal tiga pedang yang siap terhunus bersama. Mulai berlayar, menantang ujian di depan sana…
Dua telah diuji, dan yang ketiga dengan gelas-gelas kaca. Meski telah datang peringatan dari pembawa ancaman dan kabar gembira, tentang bahayanya fitnah gelas-gelas kaca, namun dia merasa bisa tegar dengan ketiga pedangnya, karena demikianlah dia telah terbiasa di dunia mereka sejak masa kecilnya, tanpa mempertimbangkan bahwa mereka pun punya rasa, sementara fitrahmu adalah lemah dengan tekanan perasaan berdosa, meskipun niatmu bukanlah seperti yang mereka duga, dan semoga ini bukanlah sekedar buruk sangka, hanya saja aku mendengar suara-suara sumbang di luar sana…
Dan yang terjadi, jika hanya empat pedang menyerang, niscaya akan dapat dipatahkan dengan tiga pedangnya. Namun begitu empat tertekan, maka puluhan bahkan ratusan ikut menyerang, dan demikianlah hukum alam, ikut campur atas nama persaudaraan, sebuah kebaikan yang kadang menyebalkan ketika melewati batasan, sampai…
Ah, kapalnya karam setelah rusak parah, ketiga pedangnya pun retak-retak hampir patah, sementara dia tenggelam lalu pingsan. Dan, dalam pingsannya pikirannya melayang ke alam bawah sadar, pada peristiwa di dasar jurang, lantas jiwanya berbisik lirih padanya…
“Wahai pemilik jiwa, meski di tempat yang berbeda, jatuhmu ini bukanlah untuk yang pertama, karena memang ujian untukmu akan tetap ada sepanjang nafasmu masih ada, maka bangkitlah wahai raga. Tak peduli berapa kali engkau jatuh, yang penting bagimu adalah bangkit dan bangit lagi! Ingatlah tentang latihan keras yang pernah dan hendaknya terus engkau lakukan, akankah semuanya sia-sia terkubur di dasar lautan? Bangun wahai pemilik jiwa! Bangun!”
Terlintas pula dalam pikirannya, tentang sebuah perdebatan panjang di antara ketiganya. Sudah, cukup! Andaikan engkau ungkapkan seribu alasan, niscaya akan aku datangkan seribu satu bantahannya, dan ini tidak akan berhenti. Dan, biarlah mereka berkata apa, karena mereka hanya sekedar komentar tanpa benar-benar peduli. Adapun yang terpenting bagi kita, tak bisakah kita berdamai, lagi???
Sampai akhirnya, matanya kembali silau dengan cahaya. Cahaya? Mana mungkin ada matahari di dasar laut seperti ini. Dan ketika dia benar-benar membuka matanya, terlihatlah sebuah mutiara putih yang sangat berkilauan yang ternyata cahayanyalah yang membangunkannya. Ingin tangannya mengambil mutiara itu, namun ketersedian udara membuat terbatasnya kekuatan, sementara insting bertahan hidupnya berkata lain, meski dia tak pandai berenang namun refleks ototnya bekerja, mendorong tubuhnya ke permukaan, menjauhi mutiara itu, mencari udara. Dan akhirnya untuk kedua kalinya dia berhasil bangkit, dari dasar laut, setelah dari dasar jurang sebelumnya…
Sejenak dia tertegun di tepi pantai, memikirkan apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan. Cuti panjang ternyata bukan jawaban. Hingga diputuskan dia kembali ke daratan, untuk kembali mengumpulkan kekuatan, menyiapkan perbekalan, mencari teman, menempa ketiga pedang, dan merancang kapal yang lebih tahan hantam, kapal perang!
Bersambung lagi, entah sampai kapan..
One Comment (+add yours?)